Beranda » Ini Bambang Trim

Ini Bambang Trim

Di sebuah booth arena Frankfurt Book Fair 2010

Bambang Trim kelahiran 29 Juni 1972 di Tebingtinggi Deli, sebuah kota kecil berjarak 80 km dari Medan. Bambang Trim adalah nama pena saya dari Bambang Trimansyah. Saya dibesarkan hingga SMP di kota kelahiran, lalu menghabiskan masa remaja SMA di Medan. Selanjutnya, hijrah ke Bandung untuk menempuh pendidikan tinggi. Dari cita-cita hendak masuk ITB, takdir membawa saya justru mendalami editologi dan publishing science di Program Studi Editing, D3 Fakultas Sastra Unpad. Berbekal ijazah D3 ini, saya pun melanjutkan studi ke Program Ekstensi S1 Sastra Indonesia Unpad.

Pendidikan formal inilah yang membawa saya memasuki dunia yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya yaitu dunia penulisan dan dunia penerbitan. Sadar bahwa saya tidak mungkin kembali ke cita-cita awal menjadi “tukang insinyur”, putar haluan pun dilakukan untuk menjadi praktisi di dunia penulisan dan penerbitan.

Karier

Karier saya dimulai dari seorang penulis lepas untuk media massa, lalu penulis buku. Pada 1995 sempat bekerja di Penerbit Rosdakarya hingga 1997 sebagai editor. Pada 1997 saya pindah dan ikut membantu pendirian Penerbit Salam Prima Media. Selanjutnya, karier saya berkutat di induk Penerbit Salam Prima Media yaitu Penerbit Grafindo Media Pratama hingga sampai posisi puncak bagian penerbit menjadi Division Head of Publishing. Beberapa portofolio karier saya adalah

  1. Direktur Utama MQS Publishing 2003-2008
  2. Pemred Tabloid MQ dan Emqikids 2006
  3. Direktur Salamadani Publishing 2009-2010
  4. Direktur Grafindo Media Pratama 2010
  5. GM General Book Tiga Serangkai Pustaka Mandiri 2010-2011
  6. Direktur TrimKom Publishing dan Dixigraf 2012-sekarang.

Seperti tekad semula jelang menginjak usia 40 tahun, saya ingin fokus mandiri. Awal 2012 pun saya resmi keluar dari Tiga Serangkai. Saya melanjutkan karier sebagai entrepreneur pada perusahaan milik sendiri di bidang jasa penerbitan bernama Dixigraf Publishing Service dan juga CV Trim Komunikata yang bergerak di bidang training penulisan-penerbitan serta konsultasi penulisan-penerbitan.

Cerita Gagal

Di Kairo International Book Fair 2009, mejeng bersama mantan diktator Mesir

Di Kairo International Book Fair 2009, mejeng bersama mantan diktator Mesir

Karier entrepreneur penerbitan dimulai dari sebuah cerita gagal. Saya pernah keluar pada 2000 dan 2002 dari Grafindo, lalu mendirikan penerbit sendiri bernama Bunaya Kreasi Multidimensi. Penerbit ini bertahan tidak sampai setahun karena gagal di marketing. Pada 2003 saya pun mendirikan unit bisnis distribusi buku sistem direct selling bernama Kaki Buku. Lagi-lagi sekitar 2 tahun kemudian, bisnis ini berantakan karena kegagalan manajemen.

Lalu, saya membanting stir mulai kembali menggagas unit bisnis publishing service di lingkungan MQS dengan nama Publishing Quick Service. PQS lalu saya akuisisi dan berganti nama menjadi Detik@ Publishing Service. Detik@ pun akhirnya saya bubarkan hingga kemudian berganti nama menjadi Dixigraf Professional Publishing Service dan berdiri hingga kini. Awal bisnis sendiri ini sebenarnya sudah pula saya mulai pada 1996 dengan mendirikan publishing service kali pertama bernama Intimedia Persada di sebuah rumah kos dengan berbekal 1 unit Macintosh dan 1 unit PC ditambah 1 unit printer HP laserjet.

Semangat Berbagi dan Mengajar

Satu hal yang menjadi bagian dari perjalanan karier saya adalah belajar dan mengajar. Dimulai pada tahun 2000 saya  mendirikan Pusat Informasi dan Kajian Perbuku (Pikbuk) dengan maksud menjadi wadah penelitian dan pengembangan informasi perbukun, termasuk pelatihan. Kali pertama saya menyelenggarakan pelatihan penulisan buku bersama Ikapi Jabar dengan narasumber Ibu Sofia Mansoor dan Mas Putut Widjanarko. Kami pun menyelenggarakan seminar perbukuan di ajang pameran dengan narasumber Bapak Deddy Mulyana dan Bapak Dedi Supriadi (alm.).

Itulah bibit awal yang akhirnya membuat saya getol mengajar. Saya pun diminta kembali almamater saya, D3 Editing Unpad untuk mengajar sebagai dosen luar biasa 2000-2009. Saya juga sempat mengajar sebagai guru SMA khusus untuk mata pelajaran bahasa Indonesia di bidang kepenulisan di SMA Plus Muththahari milik Bapak Jalalluddin Rakhmat.

Di MQS saya mendirikan unit Komunitas Lintas Buku (KOLBU) yang juga menyelenggarakan berbagai training menulis. Di Salamadani saya mendirikan Salam Learning Center yang juga telah menyelenggarakan berbagai pelatihan penulisan dan penerbitan. Di Tiga Serangkai saya menggelar safari training penulisan bertajuk First Novel Training dan The Story Explorer Training untuk anak-anak. Saya pun sempat menjadi dosen di Politeknik Negeri Jakarta dan Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia) Jakarta. Training ini membawa saya berkunjung ke berbagai daerah di Indonesia, termasuk juga menjadi penyaji makalah pada Seminar Editor Malaysia di Selangor, pada tahun 2011.

Kini, di Ikapi Pusat saya menjabat sebagai Ketua Kompartemen Diklat-Litbang-Informasi. Lagi-lagi saya menggagas berdirinya Akademi Literasi dan Penerbitan Indonesia (ALINEA) yang baru beroperasi pada tahun 2013. Bersama TrimKom saya pun menggelar berbagai pelatihan secara in-house di berbagai lembaga/institusi, seperti KPK, BPK RI, Ditjen Pajak, LIPI Press, Penerbit UT, UNS, dan Setneg Wapres RI.

Utuh Menyatu

Alhamdulillah, saya bersyukur bahwa suatu keutuhan dari pengalaman menyatu pada diri saya yaitu hulu-hilir dunia penulisan-penerbitan. Saya jelas berprofesi sebagai penulis. Saya juga jelas berprofesi sebagai editor. Saya pun berprofesi sebagai penerbit. Sisi kecil lain yang saya pelajari adalah juga desain dan tata letak buku sehingga saya pun mampu untuk menataletak buku dan di D3 Editing Unpad juga sempat mengajar tentang tipografi. Sisi kecil yang penting adalah terjun dalam bidang pemasaran buku. Di MQS saya mendirikan unit distributor buku sendiri bernama Niaga Qolbun Saliim.

Dunia penerbitan buku menjadi dunia yang betul-betul mengalir dalam aliran darah saya. Saya bisa menjadi apa saja sebagai pembaca, penulis, penyunting, penataletak, penerbit, atau juga pemasar buku. Ide-ide terus berkelebat di kepala hingga fase berganti fase dan kini saya pun berusaha masuk dalam satu fase bernama penerbitan digital.

Orang yang mengenal saya mungkin bingung tentang core competence saya. Suatu saat saya bisa berada di antara penulis buku-buku religi motivasi. Suatu saat saya juga bisa berada di lingkungan penulis buku anak. Kali lain saya dapat berada di lingkungan penulis buku akademik, para guru dan para dosen. Saya pun dapat berada di antara para editor buku. Meski tidak banyak yang tahu, kadang saya juga bergiat dalam dunia penulisan sastra, terutama sastra anak, baik itu puisi, cerpen, ataupun novel. Di sisi lain, saya  juga senang berdiskusi dengan para desainer dan ilustrator tentang berbagai format desain terkini. Kadang orang menempatkan saya sebagai penerbit, kadang sebagai editor, dan kadang sebagai penulis; padahal saya juga pembaca buku yang “rakus”. Boleh dibilang ini fenomena tidak fokus. Namun, saya melihat ini sebagai karunia Allah Swt sehingga Dia juga menciptakan manusia-manusia berjenis polymath. Dalam senyum kecil saya membiarkan orang bingung saya sebenarnya penulis, editor, atau apa. Karena itu, saya memang generalis dalam beberapa hal, terutama dalam penulisan. Semoga tidak memusingkan banyak orang.

Semangat Writerpreneurship

Writerpreneurship: sesuatu yang sedang saya kembangkan di Indonesia dan saya lakoni sejak lama sebagai

  • ghost writer untuk para tokoh (public figure), pejabat publik, CEO, dan sebagainya;
  • co-writer untuk para pengusaha, trainer-motivator, da’i, dan sebagainya;
  • editor untuk berbagai jenis buku, terutama buku anak, buku motivasi, buku how to, buku pendidikan, dan buku religi;
  • konsultan naskah dan penerbitan untuk berbagai penerbitan, di antaranya Serambi, Pustaka Al-Kautsar, Cicero Publishing, Tiga Serangkai, Grafindo, Penerbit UT, LIPI Press, Binus Business School, dan sebagainya;
  • trainer penulisan-penerbitan di lebih dari lima puluh lembaga, baik universitas, perusahaan, BUMN, kementerian, sekolah menengah, sekolah dasar, komunitas, dan sebagainya;
  • penulis buku 140+ judul dengan berbagai topik dan genre serta juga menjadi penulis artikel/feature untuk berbagai media massa.

Itulah sekilas diri saya yang berkhidmat dalam suatu bidang langka di negeri ini yaitu penulisan-penerbitan buku.

Salam takzim.

Kontak BT: PIN BB 26B35E94 | E-mail: bambangtrim@yahoo.com | Follow twitter: @bambangtrim


71 Komentar

  1. [...] Bambang Trimansyah, Direktur PT Grafindo-Salamadani dalam kata pengantarnya di Buku API SEJARAH 2 mengungkapkan bahwa Api Sejarah 2 adalah kelanjutan bermakna dari buku Api Sejarah 1 yang telah mendapat respons luar biasa dari pembaca Indonesia. Buku yang tepat naik cetak menjelang peringatan Maulid Nabi Muhammad saw., 12 Rabi’ul Awwal 1431 H ini diharapkan menjadi salah satu buku yang merupakan sumbangsih seorang sejarawan Muslim modern dan penerbit Muslim yang moderat untuk mengawal arus perubahan besar bangsa dan dunia dengan “tidak sekali-kali melupakan sejarah”. [...]

  2. Lusi Yulia mengatakan:

    Pak Bambang saya ank editing 2008, , ^_^
    saya ingin menjadi sukses seperti bapak, tipsnya apa pak?? hee

    • manistebu mengatakan:

      Sukses adalah perjalanan menuju puncak, saya sendiri masih menitinya. Jadilah, editor yang tidak biasa-biasa saja. Pelajari semuanya tidak hanya di bangku kuliah, tetapi terus mencari kepada para ahli. Banyak baca, banyak jalan, dan banyak silaturahmi. Terima kasih, ya. :) sukses terus berlanjut….

      • lusi yulia mengatakan:

        iya pak terima kasih,. saya akan coba. pak saya ingin membeli buku bapak yang taktis menyunting buku maximalis, saya cari d gramed tapi tidak ada..dimana beli nya pak?

  3. mentaridicelahsabit mengatakan:

    Assalamu’alaikum wrwb…
    siang pak! perkenalkan…saya Anggun mahasiswa semester 6 departemen ilmu komunikasi salah satu universitas di negeri ini..
    saya sedang mencari informasi seputar Ghostwriter, terkait tugas UAS (yang baru aja saya kumpulin jam 12 tadi) dan insya Allah untuk skripsi saya semester depan…

    dari sebuah blog http://astynich.multiply.com/journal/item/118/mikir2.._Jadi_Ghost_Writer…_ (yang mengutip tulisan Bapak tentang Ghostwriter) saya jadi tau bahwa Bapak adalah salah seorang Ghostwriter…

    bolehkah saya menjadikan Bapak sebagai salah satu informan saya?
    terima kasih…

    ps: maaf, satu-satunya cara mengontak Anda sejauh ini adalah via blog Anda…jadi terpaksa meninggalkan pesan di sini. sedang mencoba meng-add fb Anda..n_n
    salam kenal…

    Anggun Nadia Fatimah
    Ilmu Komunikasi
    FISIP salah satu universitas di negeri ini…

    • manistebu mengatakan:

      Wa’alaikum salam, wr. wb.

      Salam kenal kembali. Pertama, tentu saya ingin tahu ‘salah satu universitas di negeri ini…’ itu universitas apa? Bagaimana saya mau jadi informan kalau saya memberi informasi kepada mahasiswa yang ‘gak saya kenal universitasnya’. :)
      Kedua, apa yang ingin Mbak Anggun tanyakan dan paparkan dalam skripsi. Saya tentu terikat kontrak dengan beberapa klien ghostwriting soal beberapa kerahasiaan, tidak dapat sembarang memberikan.

      Anda sekiranya dapat nanti membaca buku saya saja berjudul “Buka Tabir Writerpreneurship: Ghost Writer dan Co-Writer” yang sedang saya persiapkan. Terima kasih sebelumnya sudah mengunjungi blog saya.

  4. Anggun Nadia Fatimah mengatakan:

    okey!

    Anggun Nadia Fatimah
    0706282163
    Departemen Ilmu Komunikasi
    Program Studi Komunikasi Media ’07
    FISIP
    Universitas Indonesia

    mmm…sejauh ini saya sedang mengobrol dengan beberapa ghostwriter
    tapi baru sebatas ngobrol
    untuk skripsi (yang bahkan baru akan saya ambil mata kuliahnya semester depan itu) belum bisa kasih rincian kebutuhan informasinya..
    tapi kan seorang informan punya hak untuk melindungi bagian2 informasi yang menurutnya penting dilindungi

    mmm…saya jga mencari literatur akademis terkait ini, tapi belum nemu2 juga pak.
    ada sih, jurnal internasional tapi, dan nggak sebegitu teoritisnya. rekomendasi buku Bapak sangat menolong tuh, semoga segera keluar ya Pak,,karena kalo keduluan skripsi saya ntar batal masuk daftar pstaka..heheheh..

    ghostwriter itu belum banyak dikaji di indonesia, jurnal internasional yang saya dapet juga masih berupa paparan permukaan, belum dapet yang bener2 membedah ghostwriter itu apa sampe ke pelosok-pelosoknya. eee,,nggak bisa digeneralisasi juga sih, coz, jurnal yang saya maksud adalah yang bisa diakses melalui jstor dan proquest. karena UI kayanya langganannya sama itu doank deh,,,walaupun di Routledge nampaknya ada yang lebih relevan…brrrrr!!!!

    maaf baru saya balas, baru buka imel setelah beberapa hari…
    terima kasih atas respon Bapak..

    oiya, at glance aja deh…
    berhubung ketiadaan sumber akademis-teoritis tadi, jadi agaknya penting bagi saya merumuskan kembali definisi ghostwriter itu apa, adakah jenisnya (kalo ada kategorisasinya berdasarkan apa), derajat keterlibatan dalam sebuah teks itu sejauh apa, cara kerjanya gimana,,itu dulu pak.
    ini kualitatif insya Allah, jadi pertanyaan bisa berkembang seiring perkembangan pembicaraan.

    mmm…akan sangat berharga bagi saya jika Bapak berkenan merekomendasikan literatur tertentu untuk saya baca,,itu sangat membantu.
    terima kasih pak,,semoga Bapak berkenan untuk berdiskusi dengan saya tentang ghostwriter lebih jauh..
    lagi2 terima kasiiihhh..

    • manistebu mengatakan:

      Oche deh kalo begitu…. :)
      Ndak ada literatur akademisnya… hehehe, wong para ghost writer lahir tanpa teori. Teori dasarnya ya menulis dan menulis.

      Jadi, jangan keliru Mbak menyangka para ghost writer adalah penulis-penulis yang menjual karyanya untuk disematkan dengan nama orang lain. Justru terbalik, para pemilik ide (biasanya para pejabat publik, selebritas, bahkan da’i) yang umumnya jago bicara, tetapi gagap menulis, ‘meminang’ para ghostwriter untuk diajak bekerja sama membantu mereka menuliskan ide-ide itu. Kita mengenal nama Albertine Endah yang membantu Krisdayanti. Tetapi, karena Albertine mencantumkan namanya, dia tidak disebut ghostwriter, tetapi co-writer. Kita tahu bahwa di belakang penulisan ide-ide Pak SBY ada nama Dino Patti Djalal. Dulu Pak Harto dighostwritingin sama Yusril Ihza Mahendra dalam pidato-pidatonya.

      Saya mendampingi Aa Gym untuk menuliskan ide-ide besar dan kreatif beliau soal MQ. Nama saya tidak pernah tercantum di buku-buku Aa Gym, kecuali sebagai editor. Namun, sebagian besar adalah hasil penulisan bayangan selama mengikuti pemikiran Aa, kehidupan sehari-harinya, hingga kepada puluhan CD/Kaset yang harus saya dengarkan setiap hari. Dari situ, saya mampu menulis tanpa melibatkan subjektivitas pribadi. Dan ini memerlukan pelatihan yang panjang. :)

      Saya akan berkumpul dalam waktu dekat dengan sesama penulis (para ghostwriter) juga untuk berdiskusi ringan soal ghostwriting dan formula yang kita gunakan. Mbak Anggun boleh ikutan kalau mau. Kita bakalan bertemu di Jakarta. Soal teori, nanti Mbak Anggun bisa mengembangkan sendiri karena memang tidak ada literatur tentang itu. Boleh saja menelusuri Wikipedia.

      Segitu dulu Mbak. Sukses terus berlanjut….

  5. Anggun Nadia Fatimah mengatakan:

    percaya atau tidak, ini adalah tugas kuliah pertama saya yang saya posting di blog ini. ini link-nya http://mentaridicelahsabit.wordpress.com/2010/05/27/ghostwriter-perjalananbaru-dimulai-perjalanan-barudimulai/

    kalo berminat silakan tertawa, itu memang mentah sekali. bahkan itu untuk mata kuliah analisis kritis media massa di indonesia, tapi saya juga bingung kenapa paper saya mesti berakhir dengan tragis bahwa ini lebih mirip simbiosis mutualisme. aduuuh! itu kenapa saya bilang, asumsi saya nampaknya sedikit banyak terbantahkan. artinya saya harus menyusun kembali argumen dari diskusi dengan banyak ghostwriter.

    setiap masukan akan sangat berharga bagi pengembangan topik ini.
    mohon bantuannya….

    • manistebu mengatakan:

      Hahaha, saya sudah baca papernya…. Itu bukan ghostwriter… waduh berat banget istilahnya dengan ‘komodifikasi’. Itu sih penulis (mohon maaf) yang ‘melacurkan’ diri demi uang. Jadi, dia membuat naskah kemudian menawarkan siapa saja yang butuh eksistensi untuk menabalkan namanya pada naskah tersebut. Itu pelecehan intelektual dan saya sebut sebagai penulis golongan hitam. :) Bukan ghost writer!

      Hehehe… memang sulit mencari teori soal ghost writer. Betul, ini adalah hubungan simbiosis mutualisme, tapi para ghost writer adalah para profesional. Ketika ada seseorang yang punya ide-ide besar, tetapi punya keterbatasan dalam soal menuangkan ide itu ke dalam tulisan, di situlah ghost writer beraksi. Orang itu pun merekrut sang ghost writer. Dengan kemampuan menyimak, ghost writer mulai mendengar ide-ide besar itu dilisankan. Ghost writer lalu mulai mengikuti jalan pikiran sang pemilik ide dan mengikuti jalan kehidupannya.

      Menggunakan teknik yang mirip dengan copy-paste pemikiran, lalu ghost writer mulai bekerja menuangkan ide-ide besar tadi menjadi bangunan tulisan utuh. Atas jasa itu, ghost writer memang tidak perlu menampakkan namanya karena pemilik ide sebenarnya (author) yang pantas menabalkan namanya pada karya tersebut. Ghost writer menerima imbalan atas hasil kerjanya membangun sebuah tulisan yang utuh. Nah, that’s the true ghost writer.

      Saran saya baca novel Ghost Writer atau tonton filmnya ya Mbak. Selain itu, cari buku berjudul “How to Start and Run a Writing and Editing Business” karya Herman Holtz. Sempat diterjemahkan Penerbit Grasindo dengan cover berlatar belakang warna hijau. Cari tahu siapa Herman Holtz juga.

  6. mentaridicelahsabit mengatakan:

    oh gitu, abisnya dua ghostwriter yang saya tanya2in bilangnya keterlibatan ghostwriter dalam sebuah teks emang beda2. kata literatur yang lain juga gitu. citation nya jelas kan. komodifikasi memang pikiran saya, tapi untuk mendefinisikan dan mengelompokkan beberapa hasil karya GW itu ada citationnya kan?
    dan itu beberapa dari jurnal lhoh. dengan istilah GW.
    kalo kemudian Bapak mengatakan ini bukan GW lagi, saya jadi ngerasa aneh sendiri. karena saya serius, paper itu saya bilang aneh karena mestinya itu analisis kritis, kenapa jadi jatuhnya mutualisme. tapi soal GW itu apa dan lain2 terkait GW saya berusaha seobjektif mungkin dan mengikuti sumber2 yang ada (sekalipun sangat terbatas jumlah dan kedalaman eksplorasinya).
    saya belum nonton filmnya, kemaren UAS soalnya, nggak sempet. tapi oke, akan saya cari insya Allah.
    oh, ada novelnya. okelah kalau begitu.
    trims ya Pak Bambang Trim(s). kekekeke.

    nah Pak, yang GW untuk pidato dan bahan kampanye presiden (tapi mereka juga menyandang jabatan sebagai campaign team atau jubir kepres atau sekretaris something gitu) mereka GW bukan? menurut jurnal yang saya baca (lupa judulnya) itu GW dan kata salah satu informan saya (GW profesional yang juga teman FB anda ternyata) itu juga masuk GW. salah satu calon informan saya juga mengaku GW untuk seorang politisi di jawa barat. nah lo Pak,,,terombang-ambing nih saya.
    akan saya google si Holtz itu ya…
    makasi rekomennya…n_n

    • manistebu mengatakan:

      Ya, saya kira pada akhirnya orang mendefinisikan ghost writer berbeda dengan menganggap satu hal: bahwa ghost writer adalah para penulis yang menyerahkan hasil karyanya untuk diakui sebagai hasil karya orang lain. Kalau definisinya bebas seperti ini, terjadilah apa yang saya sebut ‘melacurkan’ naskah itu, misalnya dalam konteks academic writing, seperti skripsi, tesis, ataupun disertasi. Ada saja orang-orang yang menjajakan kemampuan menulisnya untuk mendapatkan imbalan meskipun hal itu melanggar etiket atau semacam pelecehan intelektual.

      Fokus saya dalam publishing science yang merupakan cabang dari ilmu komunikasi adalah membedakan pengertian AUTHOR (pengarang) dan WRITER (penulis). Author belum tentu mampu menulis, tetapi ia seorang yang kaya ide dan memiliki autoritas atas karyanya. Writer seorang yang punya skill tinggi dalam menulis, bahkan cenderung generalis, tetapi belum tentu mampu menggagas ide baru. Karena itu, seorang author butuh seorang writer. Adapun yang terbaik adalah seorang author plus seorang writer juga. Nah, di sinilah terjadi simbiosis mutualisma. Contoh konkret adalah Jack Canfield (seorang trainer dan public speaker ternama). Jack tidak mampu menulis dengan baik. Karena itu, Jack menghire Mark Victor Hansen untuk menuliskan ide-ide briliannya dalam Chicken Soup. Mark ingin membantu dan berkontribusi sekaligus ingin pula eksistensinya terlihat. Karena itu, Mark memosisikan diri sebagai co-writer atau penulis pendamping dengan namanya disebutkan.

      Jadi, dalam dunia penerbitan, saya menempatkan GW sebagai mitra yang membantu para Author untuk mempercepat penulisan ataupun memperbagus tulisan. Kita tidak bisa menerima orang-orang yang mengakui karya orang lain demi sebuah eksistensi, kredit poin kenaikan pangkat, ataupun reputasi. Hal ini bertentangan dengan UU Hak Cipta No. 19, Tahun 2002 soal hak kekayaan intelektual. Editor-editor di penerbit buku atau media massa boleh jadi juga bertindak sebagai ghost writer karena mereka melakukan perombakan total tulisan hingga menjadi tulisan yang layak baca. Dalam UU Hak Cipta jelas bahwa karya editing juga diakui sebagai karya cipta yang baru. Nah lo.

      Hehehe….
      GW di balik business writing/PR writing ya sah disebut GW, misalnya menulis teks pidato, proposal, makalah, presentasi, dan juga surat-surat bisnis–apa pun jabatan mereka: staf humas, sekretaris, staf kampanye. Mereka memang dibayar untuk membantu dan yang keahliannya menulis untuk membantu menampilkan semua pemikiran si tokoh dengan jernih, jelas, dan tampak bagus di hadapan publik. Sepengalaman saya dengan Aa Gym, saya membantu beliau dalam mengonsep presentasi dakwah dan kami berdua melakukan diskusi panjang. Hasilnya, kemudian saya presentasikan lagi, lalu diperbaiki lagi oleh beliau sesuai dengan pemikirannya. Saya sebagai GW berusaha mengikuti alur pemikiran beliau, tidak mendikte dengan alur pemikiran saya. Konsep Neuro Linguistic Programming (NLP), terutama kalibrasi digunakan dalam teknik penulisan ala GW ini. Joe Vitalae menyebutnya juga dengan Hypnotic Writing. Ada perjalanan penting menguasai kemampuan untuk mengalibrasi pikiran kita dengan pikiran klien GW kita.

      Semoga tidak terombang-ambing lagi. Pendeknya, saya tidak menganggap ‘teman-teman’ yang secara siluman menjual karyanya kepada orang lain adalah GW. GW adalah orang yang direkrut para author (pemilik ide) untuk menuliskan ide-idenya, termasuk para presiden, gubernur, menteri, bupati, artis, dan sebagainya. Terima kasih, Mbak.

  7. Anggun Nadia Fatimah mengatakan:

    Pak, istilah author dan writer itu dirujuk dari mana? (mau saya cari…kalo nemu itu, pijakan definisi yang seperti bapak pikirkan, akan punya argumen kuat dan sangat mungkin memberi kami pemahaman jauh lebih baik lagi soal GW)

    kalo yang dimaksud adalah bukunya si Holtz,,hari senin sebaliknya saya ke depok insya Allah saya cari. cek di perpustakaan UI nggak ada (pake digilib), eh tapi saya belum buka gigaped sih..iya deh,,hehehehe..(dudul mode : on)

    hypnotic writing,,,mmm,,baru lagi nih…makasih pak!

    • manistebu mengatakan:

      Coba cari di google aja di beberapa situs tentang penulisan atau penerbitan. Rujukan saya buku-buku tentang penerbitan yang bisa ditemukan di Amazon.com, seperti The Self-Publishing Manual (karya Dan Poynter).

  8. Muhammad Nur mengatakan:

    Wah, orang Medan juga ya pak. Kapan bisa datang ke Medan lagi pak. Pengin belajar ediitng ama bapak nih. heheh…

  9. Rofinus Emi Lejap mengatakan:

    Sangat luar biasa petualangan dan produktivitas yang dihasilkan Pak Bambang. Pada usia setengah abad saya baru bermimpi untuk belajar menulis. Salam kenal.

  10. dian onasis mengatakan:

    ketemu mas bambamg lagi di wordpress.. senang bisa mendapatkan banyak info..

    eh iya.. ikutan kasih masukan untuk mbak anggun.. mungkin lebih baik via email atau personal message ya diskusi tema skripsinya..

    soalnya *saya juga dosen. kalau dilakukan lewat sini, terus ada yang tertarik dengan tema sama, lalu “mencuri baca” ide bagus ini, bakalan manyun deh mbak anggun kalau tau2 udah diduluin pihak lain untuk membuat tugas akhirnya..

    em..

    numpang “jalan2″ di blognya ya mas.. ^_^

  11. [...] Selain yang terpapar di situ, Anda juga bisa membaca buku-buku karyanya. Postingan ini hanyalah ingin menggarisbawahi beberapa poin bernilainya yang bisa dipetik dari blognya itu maupun yang tersurat di beberapa bukunya. Satu yang terpenting bagi saya dan mungkin Anda adalah ini, tip jika ingin sukses seperti sang teladan: 3B (Banyak baca, Banyak jalan, dan Banyak silaturahmi). [...]

  12. dida mengatakan:

    salam kenal pak :) saya tertarik dengan konsep writerpreneurnya ^^

  13. mio mengatakan:

    izin nge link blog nya pak

    terima kasih
    :-D

  14. Surya Kresnanda mengatakan:

    Assalamualaikum Wr Wb

    salam kenal Pak Bambang Trim
    saya Surya Kresnanda, dari bandung

    saya sangat senang dunia pengembangan diri, dan suka menulis artikel2 terkait hal tersebut

    saya berharap dapat menimba ilmu menulis dan perbukuan dari Pak Bambang

    ^_^

  15. mentaridicelahsabit mengatakan:

    assalamu’alaikum wrwb.
    hai mr. trim. long time not come to your blog.

    saya mengganti tema skripsi akhirnya. n_n.
    nampaknya si ghostwriter itu butuh kajian yang agak panjang. mungkin sampai level eksplorasi. karena kan literaturnya belum ada ya. jadi emang masih gali banget. hehehe.

    but, thx anyway for sharing.
    sok atuh kalo ada yang mau kembangin itu jadi tema skripsinya (menanggapi mba dian onasis)
    dicoba saja. alhamdulillah malah kalo bisa lebih dieksplor lagi. n_n

  16. Warni mengatakan:

    Assalamu’alaikum, Bapak
    Saya dah baca buku Muhammad effect. Di situ bapak kurang setuju dengan LOA. Gimana dengan buku-bukunya Ippho Santosa. Apakah bapak setuju?

    • manistebu mengatakan:

      Wa’alaikum salam, Ya saya ndak setuju LoA dikaitkan dengan kekuatan alam semesta. LoA ya sunatullah yang diatur oleh Allah Swt. Tentang buku Mas Ippho, saya belum baca benar. Namun, sepanjang Mas Ippho mengaitkan LoA sebagai sunatullah yang datangnya dari Allah Swt., bukan dari semesta seperti yang digambarkan Rhonda Byrne, insya Allah itulah kebenaran sejatinya.

  17. [...] <<taken from>> :: Bambang Trim [...]

  18. Erwin Michiels mengatakan:

    Hello,

    Is this all important to introduce yourself.
    Be your own and just do your job.

    Erwin.—–

  19. Meita mengatakan:

    Assalamualaikum,
    Pak Bambang, salam kenal.
    Saya seorang penerjemah lepas yang juga pengajar. Cita-cita saya untuk mengembangkan linguapreneurship, salah satunya melalui dunia terjemahan menuntut saya harus mulai menjadi editor juga karena saya dan seorang teman sedang membangun biro terjemahan yang notabene para penerjemah nya adalah mahasiswa kami yang sedang kami asah. Jadi yang kami lakukan adalah melakukan pre-editing sebelum kami kirim kembali ke klien penerbit agar dapat dijadikan pembelajaran bersama.

    • Meita mengatakan:

      Assalamualaikum,
      Wah maaf Pak, belum tamat sudah terkirim. Maksud saya ingin mengenal lebih jauh dunia editing. Menurut teman saya buku Bapak ‘Taktis Menyunting Buku’ sangat akan membantu. Saya sudah lumayan berkeliling dari gramedia sampai toko buku diskon tidak hasil alias kosong semua. Kalau tidak merepotkan bisakah Bapak dapat membantu saya dimana masih dapat memperolehnya?

      Terima kasih sebelumnya
      Salam hormat,

      Terima kasihm

      • manistebu mengatakan:

        Wa’alaikum salam,
        Ya Mbak setahu saya buku itu kok jadi sulit dicari, padahal dicetak 5.000 eksemplar oleh penerbitnya Maximalis (imprint Salamadani). Coba deh saya cari lagi kemungkinan saya masih punya buku itu di Bandung.

  20. Meita mengatakan:

    Dear Pak Bambang,
    Wah asyik, mudah-mudahan ada, kalau perlu saya ambil Pak. Kebetulan saya di Bandung juga. Terima kasih. Saya tunggu Pak kabarnya.

    Salam,
    Meita

    • manistebu mengatakan:

      Bukunya ada Mbak alhamdulillah di kantor saya, Dixigraf, Pondok Bentang Asri, Jl. Pisces No. 1, Gumuruh, Bandung (dekat daerah Turangga). Bisa kontak Boni di 022-7310663. Terima kasih.

  21. miyosi chan mengatakan:

    Keren sekali Pak :)

  22. Arfan La Angka mengatakan:

    Salam kenal, Mas Bambang Trim.

    Nama saya Arfan La Angka. Saya sudah sering membaca beberapa tulisan Mas, kebanyakan melalui internet. Saya juga punya 2 buku Mas Bambang: Taktis Menyunting Buku dan The Art of Stimulating Idea. Saya menikmati dan banyak belajar ketika membaca tulisan-tulisan Mas.

    Bagi saya tugas editor merupakan nyawa dari sebuah buku, juga untuk media lain, terutama media cetak. Namun, jarang sekali apresiasi dialamatkan kepadanya. Kalau ada buku yang enak dibaca, saya selalu mengamati siapa yang menjadi editornya.

    Saya punya pertanyaan, semoga Mas berkenan menjawab. Menurut Mas, siapa saja editor bahasa Indonesia terbaik?

    Saya hanya tahu beberapa (ini pendapat pribadi saya), yaitu J.S. Badudu, Pamusuk Eneste, Slamet Djabarudi, dan Bambang Trim. Pertanyaan saya di atas bukan untuk membanding-bandingkan, tapi karena saya ingin belajar bahasa Indonesia dan proses editingnya.

    Jangan berhenti menyebarkan pengetahuan menulis dan editingnya ya Mas. Dengan berbagi maka kau tidak akan pernah kekurangan.

    Jabat erat,
    Arfan La Angka

    • manistebu mengatakan:

      Salam kenal kembali Mas Arfan, terima kasih sudah membaca buku saya. :)

      Editor mumpuni di Indonesia banyak Mas, termasuk dua orang guru saya, Bapak Dadi Pakar (almarhum) dan Ibu Sofia Mansoor (kini beliau eksis juga sebagai penerjemah). Selain itu, ada Mula Harahap (almarhum), Mas Djoni Erfan (Gramedia), Mas Eko Endarmoko (penulis Tesaurus Bahasa Indonesia), dan Mas Masri Sareb Putra (Indeks)… Di group Agromedia ada senior saya bernama Tanudi juga editor andal. Orang mungkin lebih mengenal saya karena memang saya banyak menulis literatur tentang editing. :)

      Siap Mas… saling berbagi.

      Salam takzim,

      Bambang Trim

  23. setiawandicky mengatakan:

    Ass. Wr. Wb.
    Salam kenal, Pak.
    Nama saya Dicky Setiawan. Saya lulusan Pendidikan Matematika. Saat ini bekerja sebagai editor. Akan tetapi, sering juga ditugaskan untuk menulis. Sekarang saja sedang ditugaskan untuk menulis buku Keterampilan untuk SMA Kelas XI. Padahal saya sama sekali buta terhadap materi keterampilan, apalagi prakteknya. Sebenarnya, adakah batasan untuk seorang penulis? Maksud saya, sebagai seorang yang biasa ngurusin matematika, yang nulis dalam bidangnya aja belum tentu bagus, eh malah nulis bidang lain yang tidak dikuasainya, apalagi untuk buku pelajaran. Bukan berarti saya PD kalau buku itu pasti bagus hasilnya karena saya sendiri sebenarnya tidak suka dengan dunia tulis-menulis, hanya ingin jadi editor saja–kalau bisa.
    Buku ini akan dinilaikan ke Puskurbuk. Jadi bisa saja tidak lulus. Akan tetapi, saya juga pernah nulis untuk buku Keterampilan SMP Kelas VIII, walaupun hanya satu bab dan buku itu lulus penilaian Puskurbuk. Saya sebenarnya suka kepikiran dan berharap buku yang saya tulis tidak lulus karena khawatir menjadi tidak baik untuk pembelajaran bagi para siswa. Hal ini disebabkan materi yang saya tulis hanya mengambil dari sumber-sumber yang saya baca saja dan saya tidak mempraktikkannya. Sementara Keterampilan adalah pelajaran praktis yang seharusnya ditulis oleh ahlinya. Alhasil, saya tambah males-malesan untuk nulis. Sebaiknya, apa yang harus saya lakukan? Apa harus mengundurkan diri saja? Tapi bingung, kerja apaan lagi? hehe…
    Terima kasih, Pak.
    Mohon sumbang sarannya, Pak.

  24. manistebu mengatakan:

    Wa’alaikum salam wr wb
    Salam kenal kembali Mas Dicky.

    Editor pekerjaannya kadang merembet ke rewriting (penulisan ulang) apabila naskah dari penulis tidak layak. Jadi, editor memang harus memastikan segala sesuatu sesuai dengan program penerbitan.

    Namun, halnya kalau editor disuruh nulis buku. Ini tidak termasuk job des-nya dan kalaupun penerbit menugasinya, ia pun harus mendapatkan kompensasi penulisan. Di sisi lain, jika ia ‘dipaksa’ menulis sesuatu yang tidak dikuasai atau bukan bidangnya, berarti penerbit memang mengambil risiko terlalu berani. Penerbit jadi berpikiran aji mumpung dan tidak mau susah-susah mencari penulis. Syukur-syukur naskahnya lulus Puskurbuk dan mendapatkan kompensasi dari sistem beli putus. Kalau terjadi sesuatu seperti kasus LKS yang lolos editing, mereka pun seolah-olah lepas tangan menyalahkan editor.

    Saran saya Mas kita tetap bekerja dengan idealisme dan kita senang bekerja dengan penerbit yang peduli idealisme, termasuk dalam soal kualitas maupun lebih luas profesionalitas. Apabila Anda kurang berkenan, Anda dapat tinggalkan. Apabila Anda tidak punya pilihan, ya Anda harus beradaptasi dengan pola-pola penerbitan seperti ini. Itu saran saya. Terima kasih.

    • setiawandicky mengatakan:

      Terima kasih, Pak atas sarannya.
      Tulisannya bagus-bagus, sangat memotivasi, khususnya saya. Saya yang pengen jadi editor aja, ternyata harus bisa nulis. Saya yang ngga suka karna ga bisa-bisa nulis, jadi pengen belajar nulis dan jadi penulis. Pokoknya sip dah.
      Mudah-mudahan semangatnya saya ngga cuma sebentar doang dan saya bisa jadi penulis dan editor profesional. Amin. Terima kasih, Pak.

  25. jahar mengatakan:

    assalam…wah semakin sukses aja nih pak Bambang Trim…semoga semakin sukses dan dunia perbukuan tanah air semakin maju.amin…
    btw…masih ingat dengan saya ngak ya?…Jaharuddin (dulu di pustaka al kautsar)
    wassalam…
    Jahar di Jerman

  26. Erlan Primansyah mengatakan:

    Halo Mas Bambang,
    Senang berkenalan dengan Anda….
    Anda bukan tidak fokus atau seorang generalis tapi seorang yang mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang utuh sebagai pelaku industri penerbitan… Salut atas pengalaman dan kemampuan Mas Bambang.
    Segera kita akan bertemu ya… Bicara dan berdiskusi mengenai penerbitan dan buku digital…
    Wassalam.

    • manistebu mengatakan:

      Salam Mas Erlan, terima kasih atas silaturahimnya. Nama belakang kita hampir sama. :)
      Hehehe iya Mas, positioningnya jadi gak jelas. Siap bersua untuk berbagi dan bersinergi. Terima kasih sekali lagi.

  27. Astutiana Sugiastuti mengatakan:

    Dear, Dik Bambang.
    Mungkin kita pernah menyapa di Kompasiana.
    membaca manis tebu dan koment yang ada, saya mendapat ilmu yang banyak tentang kepenulisan dan penerbitan.
    Birahi menulis saya muncul memang agak telat, di usia setengah abad baru berbuat, tapi tidak ada kata terlambat, karena pikiran belum tersumbat.
    Ada dua naskah buku yang saat ini sudah saya tawarkan kesana kemari, termasuk beberapa cerpen yang saya kirim kemedia pun belum disapa.
    Mau melangkah ke self publishing masih memilih, manakah yang akan saya pinang, melihat banyak refernsi yang diberikan mbah Google pada saya.
    Ada waktu sedikit untuk membaca contoh tulisan saya yang sudah saya siapkan untuk penerbit.
    Seandainya Dik Bambang bersedia kemana saya kirim contoh tulisan saya?
    Terima kasih untuk ilmu yang sudah dibagikan ke saya.
    Salam :) :):)

    • manistebu mengatakan:

      Salam,
      Terima kasih Ibu Tuti…

      Menulis bukan bakat, dapat dilatihkan kapan pun dan betul tidak ada kata terlambat.
      Saya sarankan Ibu dapat mengikuti kelas penulisan buku, baik nonfiksi ataupun fiksi di Akademi Literasi dan Penerbitan Indonesia (ALINEA) jika berkenan.
      Begitupun dengan upaya self-publishing, Ibu bisa melihat jendela tentang jasa penulisan di dalam blog ini.

      Boleh untuk review dikirimkan ke bambangtrim@yahoo.com Mungkin saya bisa memberikan beberapa saran untuk penerbitannya. Terima kasih kembali sudah mengunjungi blog ini. :)

      Salam,

      Bambang Trim

  28. Nina mengatakan:

    Salam kenal Pak Bambang, Saya Nina, mahasiswa semester 8 Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Tarumanagara. Saya sedang mencari informasi seputar penulisan buku terkait dengan proyek tugas akhir yang saya ambil yaitu kursus penulisan dan penerbitan buku. Saya ingin bertanya kepada Bapak sebagai pakar dalam bidang penulisan dan penerbitan mengenai minat menulis masyarakat Indonesia terutama Jakarta, apakah minat menulis masyarakat termasuk tinggi atau rendar? apakan mengalami peningkatan/ penurunan dibanding tahun sebelumnya? Apakah dalam menulis buku orang-orang lebih menyukai menulis bukunya sendiri atau menggunakan jasa penulisan ghost writing/ co-writing? Lalu mengenai akademi penulisan alinea yang diadakan IKAPI merupakan kursus secara singkat. apakah ada peluang bahwa kursus penulisan-editing-penerbitan ini dikembangkan menjadi kursus yang diadakan secara berkala serta fasilitas yang dibutuhkan untuk kursus ini ? Lalu mengenai data-data tersebut apakan dapat saya peroleh di IKAPI ? Maaf sebelumnya jika saya terlalu banyak bertanya. Terima kasih

    • manistebu mengatakan:

      Salam kenal kembali,
      Tentang minat menulis sebenarnya dapat diamati dari pertumbuhan judul-judul buku yang masuk ke toko buku besar semacam Gramedia. Dari tahun ke tahun judul-judul buku itu tumbuh, termasuk juga yang diterbitkan secara mandiri (self-publisher). Pertumbuhan pengguna internet, blog dan social media juga menjadi indikator naiknya minat menulis dan membukukan apa yang mereka tulis di dalam blog. Komunitas-komunitas yang tumbuh juga menyumbang pada lahirnya para penulis.

      Hanya kalau dimintakan data memang tidak ada yang melakukan survey khusus untuk itu sehingga tidak dapat ditampilkan secara angka-angka.

      Soal menggunakan jasa co-writer atau ghost writer, itu bukan masalah suka atau tidak suka, tetapi terkait kemampuan dan waktu orang yang menggunakan jasa tersebut. Tokoh seperti pejabat atau selebritas umumnya menggunakan jasa penulis karena memang mereka tidak bisa menulis atau tidak memiliki waktu. Pisahkan dari penelitian soal buku-buku yang menggunakan jasa co-writer atau ghost writer jika ingin mendalami tentang tumbuhnya minat menulis buku.

      ALINEA sendiri merupakan kursus singkat yang baru dimulai pada 2013 dan sudah direncanakan menjadi berkala. Namun, ALINEA menyajikan kursus komprehensif tidak hanya menuis, tetapi juga editing dan marketing.

      IKAPI memang belum melakukan survey terkait penulis karena juga tidak ada asosiasi penulis yang resmi terbentuk di Indonesia. Beberapa asosiasi sifatnya masih terbatas dalam lingkungan profesi seperti asosiasi guru penulis ataupun semacam komunitas seperti Forum Lingkar Pena.

      Demikian, semoga menjawab. Terima kasih.

      BT

      • Nina mengatakan:

        Pak, bagaimana dengan minat baca masyarakat? Apakah ada data statistik tentang perkembangan minat masyarakat jakarta secara terperinci menurut wilayah? Misalnya minat baca masyarakat Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Timur, dan sebagainya. Jika tidak kira- apakah ada hal yang dapat menjadi indikator minat baca seperti persebaran toko buku atau jumlah perpustakaan yang ada di setiap wilayah? Terima Kasih.

      • manistebu mengatakan:

        Wah, tidak ada data seperti itu, apalagi spesifik. Coba Anda tanya langsung ke Ikapi DKI karena untuk wilayah DKI ada pada domain Ikapi daerah DKI. Indikator minat baca dapat dilihat dari kunjungan ke perpustakaan dari tahun ke tahun; peningkatan jumlah penjualan di toko buku. Kalau pertambahan perpustakaan dan toko buku tidak dapat dijadikan indikator peningkatan minat baca. Minat baca juga menyangkut minat membaca media massa, tidak hanya buku. Tks.

  29. Imam Restu Alfauzi mengatakan:

    Perkenalkan, saya Imam editing 2012.
    Saya kagum dengan Akang. Baru kemarin saya dapat buku Kang Bambang, isinya keren abis Kang.. hehe…
    Salam kenal Kang.. :D

  30. hadi,s mengatakan:

    pak bambang sya mencari buku anda, yang berjudul saya bermimpi menjadi penulis, di hampir semua toko buka sudah tidak ada, bagaimana saya bisa mendapatkan

    • manistebu mengatakan:

      Buku SBMB (Saya Bermipi Menulis Buku) terbitan 2005 dari MQS Publishing. Silakan kontak penerbitnya karena saya sendiri juga sudah tidak menemukannya lagi. Terima kasih.

  31. hadi,s mengatakan:

    mohon balasanya

  32. mahmud mengatakan:

    pak bangbang saya mencari buku “saya bermimpi menulis buku” dihampir semua toko sudah tidak ada, mohon info pak dimana saya dapat mencarinya….mohon balasanya

    MAHMUD, BLITAR

    • manistebu mengatakan:

      Mohon maaf Mas Mahmud, buku itu sudah lama sekali terbit tahun 2005 oleh KOLBU, lini MQS. Silakan coba hubungi penerbitnya Mutiara Qolbun Saliim. Di toko buku memang sudah tidak ada dan juga buku tersebut hanya dicetak ulang 2 kali. Terima kasih.

  33. MAHMUD mengatakan:

    kalau sudah tidak ada buku SBMB, mohon saran mas, buku apa yang kira-kira cocok untuk pemula untuk menulis buku, yang hampir sama dengan buku tersbut…suwun

  34. ma'had mengatakan:

    wah sepak terbang pak bambang trim di perbukuan memang luar biasa, oh ya pak saya ingin beli buku pak bambang yang TAKTIS MENYUNTING BUKU, TAK ADA NASKAH YANG TAK RETAK, MAMAHAMI COPY EDITING (kalau nggak salah),, saya ingin membeli ke-3 nya pak, apakah bisa mendapatnya lewat situs ini? berapa harga totalnya? saya di demak jawa tengah

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 146 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: