Manistebu's Blog

Manajemen-Bisnis-Tren Perbukuan dalam Genggaman

Tak Ada Naskah yang Tak “Retak”

Untuk kali ketiga saya menyusun buku tentang penyuntingan (editing) naskah berjudul Tak Ada Naskah yang Tak “Retak”: Panduan Profesional Editing Naskah. Buku sebelumnya sempat saya terbitkan di IKAPI DKI dengan judul Memahami Copyediting. Lalu, buku kedua saya terbitan di Maximalis dengan judul Taktis Menyunting Buku. Dua buku sebelumnya memang berkonsentrasi pada penyuntingan naskah buku.

Buku ketiga ini saya tulis untuk penyuntingan naskah yang lebih umum, seperti artikel, berita, esai, feature, makalah, dan laporan. Tentu harapan saya ingin membumikan lagi keterampilan dan praktik editing kepada para penulis maupun pegiat penulisan di banyak bidang, seperti staf humas, staf komunikasi  pemasaran, guru, dosen, widyaiswara, maupun para penulis dan editor sendiri. Fokus utama keterampilan yang dibahas adalah mechanical editing dan substantive editing.

Seberapa paham Anda tentang kegiatan editing dan editor sendiri? Dunia penulisan saja terkadang bagi masyarakat awam sudah merupakan dunia ‘penuh misteri’, apalagi dunia penyuntingan naskah. Namun, bagi Anda yang bergiat dalam dunia tulis-menulis tentu sudah tidak asing dengan kata editing atau kata sunting.  Sayangnya, literatur tentang editing sangat sulit diperoleh, kecuali yang pernah ditulis oleh editor-editor senior semacam Pamusuk Eneste, JD Parera, Dadi Pakar, Sofia Mansoor, ataupun Mula Harahap.

Saya memang mengangkat topik dengan judul Tak Ada Naskah yang Tak “Retak” karena pada dasarnya sebagian besar naskah yang masuk dapur penerbitan memerlukan sentuhan editor. Tidak ada naskah yang dapat dikategorikan error free ataupun zero defect. Pada setiap naskah, tidak peduli itu ditulis penulis senior atau penulis pemula selalu mengandung kesalahan mulai kesalahan sepele, kesalahan elementer, hingga kesalahan fatal. Mungkin saja sebuah naskah terbebas dari kesalahan karena memang berbentuk naskah pendek seperti artikel atau berita. Namun, pada naskah-naskah yang lebih panjang, kesalahan dapat terjadi.

Kesalahan penulisan dapat disebabkan ketidaktahuan, keteledoran/kecerobohan/kemalasan, tekanan waktu (deadline), kebosanan, kekurangan bahan atau wawasan, dan sebagainya. Sejak Guttenberg menemukan mesin cetak, lalu banyak bahan tulisan diproduksi secara massal, kesalahan-kesalahan mulai ditemukan. Foto berikut ini memperlihatkan ruang editorial The Seattle Daily Times pada zaman dahulu di Seattle, tahun 1900.

Buku yang saya tulis ini termasuk istimewa bagi saya pribadi karena langsung diterbitkan perusahaan saya sendiri TrimKom dengan sistem cetak manasuka (POD) dan diterbitkan terbatas 200 eksemplar. Saya menuliskan naskah ini sebenarnya untuk kepentingan pelatihan editor profesional yang akan diselenggarakan pada 19-20 Maret 2012 di Bandung. Untuk itu, guna memudahkan pemahaman lebih jauh soal editing, terutama terkait kebahasaan dan masalah-masalah editorial, saya membuatkan buku ini sebagai bahan bacaan para penulis maupun editor.

Buku praktis ini disertai kasus-kasus kebahasaan maupun kasus-kasus di luar kebahasaan yang terkait dengan naskah dan kerap ditemukan editor. Nah, apakah Anda berminat memilikinya?

Cara Memesan Buku Langka ini

Sampai kini sudah ada pemesanan indent dari 30 orang. Anda dapat memesannya langsung via email trimcomm@yahoo.com. Pemesanan dilayani dengan transfer biaya seharga buku Rp48.000 plus ongkos kirim: Rp5.000 (wilayah Jabodetabek dan Bandung); Rp15.000 (Pulau Jawa); Rp25.000 (Luar Pulau Jawa). Buku akan dikirimkan pada 15 Maret 2012.

Spesifikasi Buku: 14 x 21; 120 h.; book paper; perfect binding; hitam putih.

Transfer ke Rekening a.n. Bambang Trimansyah 2821405361 BCA KCP Maranatha atau Bank Mandiri 130-00-0572968-9. Bukti dan konfirmasi transfer dikirimkan ke trimcomm@yahoo.com atau faks ke 022-7310663.

Industri Mitos

Seorang mahasiswa S2 mengajak saya berdiskusi perihal buku-buku self-help Islami yang marak terbit pada satu dekade ini. Ia memerlukan bahan untuk penelitiannya. Saya menyambut baik diskusi ini karena terkait dengan industri yang saya geluti–industri penerbitan buku.

Poin utama diskusi berpijak pada judul-judul yang marak digunakan. Pertama, judul-judul yang menggunakan bahasa Inggris: The Power of …., The True Power of …., The Secret of …., The Miracles of …. Bahkan, terkadang judul berbahasa Inggris itu disandingkan dengan kata bahasa Indonesia. Kedua, judul-judul menggunakan kosakata bahasa Indonesia dengan maknanya yang sama: Misteri …., Rahasia …., Keajaiban …., Mukjizat ….

Saya mengatakan ini sebuah kecenderungan yang lahir dari sebuah industri bernama self-help yang umumnya disokong kaum New Age. Kaum New Age menggunakan basis-basis sains, terutama kedokteran maupun psikologi untuk mengguncang kesadaran banyak orang tentang sesuatu yang dinamakan potensi diri. Hal ini sempat saya ulas dalam buku yang saya tulis berjudul Muhammad saw Effect yang diterbitkan Tinta Medina. Alhasil, munculnya buku-buku dengan judul sedikit bombastis soal sesuatu yang coba disadarkan: The Power bahwa adanya kekuatan tersembunyi; The True Power bahwa ada kekuatan sebenarnya yang tidak diketahui; The Secret bahwa ada rahasia yang tersembunyi; The Miracles bahwa ada keajaiban-keajaiban yang mencengangkan. Kosakata judul yang seperti mantra ini sontak menyihir jutaan orang di dunia yang sedang menemukan masalah atau sedang melihat masalah pada diri mereka.

Industri self-help menemukan momentumnya pada saat krisis terjadi 1997-1998 di Indonesia, lalu juga menemukan momentumnya seiring maraknya bisnis MLM–saat ketika orang-orang Indonesia memerlukan motivasi karena keterpurukan ekonomi. Momentum semakin menguat pasca-reformasi dengan bermunculannya para motivator, termasuk dari kalangan rohaniwan (ustadz, da’i, pendeta, dsb.) untuk menjalani hidup lebih baik dengan cara-cara menakjubkan. Indonesia akhirnya dibombardir dengan motivasi, pengembangan diri, termasuk ‘mitos-mitos’ self-help.

Bersamaan dengan diskusi ini, saya pun membaca buku terbaru terbitan B First (imprint Bentang) berjudul 50 Mitos Keliru dalam Psikologi. Buku ini memang memuat data dan fakta untuk mementahkan industri mitos yang dibangun para pengusung self-help maupun New Age.

Kecenderungan Masuk ke Industri Mitos

Industri mitos memang menggiurkan karena mampu mendatangkan pengikut, menghimpun komunitas, dan akhirnya mendatangkan uang. Buku yang saya sebutkan tadi ditulis oleh Scott O. Lilienfeld, Steven Jay Lynn, John Ruscio, dan Barry L. Beyerstein. Buku ini memaparkan beberapa mitos penting yang kemudian menjadi industri dalam bentuk produk pelatihan, buku, VCD/DVD, maupun konsultasi, di antaranya:

  • memperdengarkan musik Mozart kepada bayi dapat meningkatkan kecerdasan (tidak terbukti);
  • ada orang yang cenderung menggunakan otak kiri dan lainnya menggunakan otak kanan dengan ciri tertentu (tidak benar);
  • hipnosis berguna untuk mengeluarkan kenangan akan kejadian yang terlupakan (tidak benar);
  • orang dapat mempelajari informasi baru, misalnya bahasa baru, saat tidur (tidak terbukti).

Informasi mitos ini sangat cepat menyebar di Indonesia mengambil kasus akhir-akhir ini juga tentang tes bakat melalui sidik jari ataupun aktivasi otak tengah pada anak-anak. Apa yang harus kita pahami bahwa ini sudah menjadi industri berlisensi dan setiap pemegang lisensi harus berupaya membalikmodalkan lisensi yang dibayarkannya dalam angka ratusan juta hingga miliaran. Semua alasan berbau sains pasti disertakan dan masyarakat awam yang memang mendambakan kehidupan lebih baik, terutama kesuksesan untuk anak-anak mereka pun mudah sekali terprovokasi.

Industri mitos ini memang tampil lebih digjaya karena kemajuan teknologi internet, termasuk social media. Kita mudah memercayai sesuatu hal karena sudah sering diucapkan dari mulut ke mulut atau diposting lewat mulut digital. Kita menganggapnya sebagai kebenaran seperti halnya anggapan bahwa kebanyakan manusia hanya menggunakan 10% fungsi otaknya. Itulah kemudian muncul ungkapan bagaimana membangkitkan raksasa dalam diri Anda ataupun kemampuan-kemampuan paranormal dengan mengaktifkan 90% fungsi otak yang tadi belum digunakan.

Mitos ini juga menimbulkan olok-olok bahwa otak orang Indonesia paling mahal karena paling jarang digunakan untuk berpikir. Padahal, penelitian para ahli otak (neurologi klinis dan neuropsikologi) membuktikan bawah kehilangan kemampuan otak kurang dari 90% disebabkan penyakit atau kecelakaan dapat membahayakan. Jika orang Indonesia jarang menggunakan fungsi otaknya, kemungkinan semuanya sedang berada di ujung maut.

Saya mengutipkan apa yang ditulis Taufiq Rahman untuk menggambarkan industri mitos ini dalam sebuah situs sebagai berikut. “Untuk melihat betapa raksasanya industri self-help dan motivasional ini kita perlu menengok ke tempat pertama di mana kebohongan tersebut diputar menjadi bisnis yang legal dan sahih, Amerika Serikat. Dalam buku Self-Help Inc.: Makeover Culture in American Life, penulis Micki McGee menemukan bahwa Amerika Serikat menghabiskan US$9.6 milliar pada tahun 2006 hanya untuk infomercial, seminar, dan pelatihan motivasional dalam rangka upaya perbaikan diri atau self-improvement. Di toko buku on-line terbesar di dunia, Amazon.com terdapat lebih dari 4.500 buku self-help dengan angka penjualan $700 juta pada tahun 2006. Buku Dale Carnegie yang legendaris dan menjadi cetak biru buku-buku motivasional How to Win Friends and Influence People—yang saya yakin ada di rak buku Mario Teguh—telah terjual 15 juta kopi sejak diterbitkan pertama kali pada tahun 1937. Buku self-help awal lain yang cukup legendaris Think and Grow Rich, yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1937, sudah terjual 20 juta kopi ketika sang pengarang Napoleon Hill meninggal pada tahun 1970. “

Industri Mitos Memengaruhi Masyarakat Islam

Dalam konteks masyarakat religi Islami yang dominan di Indonesia, industri mitos yang diperkenalkan kaum New Age ini sedikit banyak memengaruhi. Saya sendiri pernah melihat flier membahas buku The Secret yang dilakukan sebuah kelompok pengajian. Kecenderungan yang terjadi adalah mengait-ngaitkan mitos-mitos sains itu dengan kesamaan-kesamaan yang diuraikan di dalam al-Quran atau hadits.

Lalu, muncullah para penulis buku dadakan membawa popularitas mitos tadi ke dalam ranah Islam dengan juga menggunakan terminologi yang sama The Power, The True Power, ataupun The Secret. Saya sendiri menyadari telah terlibat dalam industri pengemasan seperti ini (industri buku) sehingga kemudian saya menemukan kecenderungan menciptakan ibadah sebagai komoditas mencapai tujuan tertentu, sepertinya halnya kaya atau kemakmuran. Ada shalat, doa, shaum, maupun ibadah lain yang ditujukan untuk meraih kekayaan atau bahasa spiritualnya rezeki.

Ajaran Islam pun ditempatkan sebagai ajaran misterius yang harus digali dan ternyata memberikan kilatan pengetahuan yang mencengangkan. Pertanyaannya, sejak kapan Nabi Muhammad saw. menyembunyikan apa yang tersirat dalam al-Quran dan lalu tiba-tiba para penulis itu menemukan kilatan ide bahwa ada yang tersembunyi di dalam al-Quran sehingga muncul judul The Secret of Quran. Mungkin maksudnya memang memberikan sebuah efek bombastis yang umat Islam harus tahu–pola yang sama dilakukan oleh Rhonda Byrne dalam buku The Secret bahwa ternyata banyak di antara kita tidak mengetahui rahasia sukses (seperti yang terjadi pada Beethoven, Newton, Thomas Alva Edison, Einstein, dan lainnya) yang berusaha dilenyapkan berabad-abad.

Pola lain yang diperkenalkan self-help hingga kemudian dalam training penulisan saya sebut sebagai pola butiran adalah kecenderungan menggunakan judul berformat angka. Angka favorit adalah angka ganjil, contohnya 7, 9, 13, 101, 501, hingga 1001. Para penulis Muslim pun kerap menggunakan angka ini misalnya merujuk pada arbain dengan mencantumkan angka 40 atau Asmaul Husna menggunakan 99.

Dalam angka ini sepengamatan saya memang ada dua pendekatan. Pendekatan pertama adalah riset sehingga seorang penulis menemukan jumlah tertentu dalam konsep pengembangan diri, misalnya Steven Covey yang kemudian memopulerkan temuannya 7 Habits of Highly Effective People yang belakangan ditambah Covey menjadi 1 lagi dengan judul 8th Habits.

Pendekatan kedua yang menurut saya agak perlu berhati-hati menyikapinya jika angka ditampilkan para penulis tanpa riset maupun tanpa dasar yang mendukung. Misalnya, dalam soal sukses atau meraih rezeki, sang penulis memaparkan 7 langkah maupun 8 langkah yang semuanya ada dalam setiap bab. Pembaca kritis akan bertanya apakah semua langkah itu begitu harmoni bisa tersusun dengan jumlah yang sama, misalnya 5 Sikap yang Harus Anda Hindari untuk Menjadi Kaya; 5 Sikap yang Harus Anda Amalkan untuk Menjadi Kaya; 5 Amalan Penting Menjaring Rezeki; 5 Langkah Menumbuhkembangkan Bisnis yang Berkah. Lalu, sang penulis pun menghubungkan angka 5 tadi pada Rukun Islam.

Tentu hal ini saya anggap sebagai ide kreatif belaka, tetapi secara dasar keagamaan Islam tidak ada tuntunannya, kecuali yang benar datang dari Rasulullah saw. maupun yang bersumber asli dari al-Quran tentang jumlah butiran-butiran amalan maupun larangan. Konsep butiran angka memang ada dalam substansi al-Quran maupun Hadits, tetapi tidak terus kemudian kaum Muslim dapat menginterpretasikan sendiri angka-angka lain mengikuti tren maupun kecenderungan self-help.

Para Nabi yang Tidak Mengaku Nabi

Self-help dan New Age memang melahirkan nabi-nabi baru dengan mengusung iming-iming terapi, motivasi, maupun pencerahan terhadap sikap hidup seseorang sehingga mengikuti alur sukses yang benar. Paham law of attraction sangat dalam merasuki banyak orang, tidak terkecuali di Indonesia. Meskipun saya menulis seperti ini, tetaplah banyak penentangan dan penjelasan (seolah-olah) masuk akal dari para pendukungnya yang mementahkan anggapan saya ataupun buku semacam 50  Mitos Keliru dalam Psikologi–dan terutama di baliknya adalah bisnis pelatihan/tranining, penerbitan buku, dan CD/VCD/DVD yang bisa terancam karena kesadaran banyak orang.

Bahkan, law of attraction pun diakui dan dibawa ke ranah spiritual Islam dengan mengait-ngaitkannya pada sumber hadits Qudsi yang sangat populer: Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku. Karena itu, seorang Muslim pun dibenarkan mempraktikkan law of attraction dengan terapi berpikir positif, berbaik sangka sehingga akan datang kebaikan dalam hidup kita karena kita menghimpunnya di dalam pikiran.

Uniknya, ‘para nabi’ ini tidak mengaku nabi sehingga tidak dapat langsung kita tuding kesesatannya. Para nabi ini memiliki banyak pengikut dan mampu menggerakkan orang dengan kata-kata yang menghipnosis. Salah satu ciri kental ‘para nabi’ ini adalah mengeluarkan begitu banyak kata-kata bermakna (quote) yang kadang dikutip dan dikumpulkan dari berbagai sumber, bahkan dari al-Quran maupun al-Hadits atau pepatah. Man jadda wa jadda adalah pepatah Arab yang telah menjadi ‘mantra’ luar biasa untuk memotivasi. Namun, di tangan ‘para nabi baru’, pepatah seperti itu dapat ditulis ulang dengan format lain serta lebih menggugah. Di facebook atau twitter setiap hari kita dapat melihat lautan quote  yang ditulis orang-orang yang mengaku dirinya motivator, terapis, ataupun master dalam bidang pengembangan diri. Dan kini kita menyadari bahwa hal ini adalah sebuah industri yang menyematkan angka rupiah tertentu.

Ketika saya menghubungkannya dengan literasi, tampaklah bangsa Indonesia yang kemampuan literasinya terus menurun lebih mudah terbuai dengan ungkapan-ungkapan ataupun kutipan-kutipan (quote) yang disusun dengan literasi menengah ataupun tinggi–meskipun kebanyakan orang kadang tidak memahami maknanya. Sebagai contoh saya bisa menulis seperti ini dengan gaya motivator: “Sukses adalah kegagalan yang tertunda sejenak. Kegagalan milik semua orang, namun kesadaran untuk memperbaiki kegagalan adalah sikap para pejuang. Semakin lemah tekad berjuang, semakin lama kegagalan itu bersemayam. Karena itu, pencari sukses adalah mereka yang tidak berlama-lama dengan masa lalu yang gagal.”

Sangat gampang bagi saya menciptakan quote-quote seperti itu setiap hari karena saya penulis dan saya dapat menggunakan begitu banyak sumber self-help. Saya tidak peduli Anda mau paham atau tidak. Namun, quote-quote itu tidak lantas membuat saya bisa menyamai seorang Syekh Ibnu Atha’illah yang mampu menyusun kitab al-Hikam dengan bahasa yang kaya makna dan menghunjam dalam ke pikiran maupun perasaan.

***

Tulisan ini sekadar mengangkat wacana bahwa hidup kita kini dikepung industri mitos. Salah satu jalan menghindarkannya adalah mencari tahu dengan membaca. Namun, social media dan gadget saya tengarai membuat waktu membaca kita secara mendalam menjadi sempit. Satu hal yang dibahas dalam buku Scot O. Lilienfeld adalah tren membaca sifat orang berdasarkan tulisan tangannya (grafologi). Buku tentang hal ini pun laku keras dan sontak banyak orang yang menjadi ahli grafologi dapat memetakan sikap seseorang berdasarkan tulisan tangannya. Lalu, saya berpikir bagaimana kalau saya mengubah cara menulis saya–saya menguasai teknik menulis kebanyakan dengan huruf lepas dan juga teknik menulis huruf sambung; boleh jadi kemudian saya memiliki dua sifat.

Lalu, mitos yang terkait dengan bacaan adalah bagaimana seseorang dapat mempraktikkan baca cepat. Ilmu atau teknik membaca cepat memang dikenal dengan nama speed reading melalui cara baca skimming dan scanning. Namun, kemudian ilmu ini pun menjadi industri self-help yang bombastis ketika sebuah kursus menjanjikan kecepatan normal membaca 100-200 kata per menit dapat ditingkatkan menjadi 10.000 sampai 25.000 kata per menit. Para ahli kemudian menemukan bahwa tak satu pun kursus tersebut yang dapat meningkatkan kecepatan membaca seseorang tanpa menurunkan pemahaman mereka terhadap bacaan tersebut. Apalagi, kecepatan membaca maksimum bola mata manusia hanyalah 300 kata per menit. Ya, sesuatu yang kedengaran seperti nyata dan bagus memang kemudian dapat lebih mudah diterima.

Saya hanya membutuhkan waktu sekitar 3 jam untuk menghabiskan buku Scot O. Lilienfeld  setebal 372 halaman untuk mendapatkan pemahaman, lalu menuliskan artikel dalam blog ini. Saya tidak mengikuti kursus seperti itu, tetapi memang sudah melatihkan membaca cepat sejak minat saya begitu tinggi terhadap naskah dan pekerjaan saya sebagai editor. Saya dapat mengingat dengan baik bagian-bagian tertentu yang saya baca dan kemungkinan akan saya koneksi kembali untuk meyakinkan pemahaman saya. Dan rahasianya saya tidak membaca keseluruhan bagian; saya mencari pola dari sebuah buku ditampilkan dan kemudian juga membaca paling tidak satu atau dua paragraf awal untuk bagian yang kurang menarik bagi saya.

Ciri lain industri mitos atau industri self-help ini memang sangat mementingkan testimoni ataupun endorsement mereka yang pernah mendapatkan pengalaman mencoba sebuah produk. Entah saya harus memberikan testimoni apa karena saya pernah mengikuti sesi fire walk. Saya tidak tahu apakah keberanian mengikuti sesi berjalan di atas bara api ini menjadikan saya orang yang berani mengambil risiko (risk taker). Namun, kemudian saya ketahui bahwa batu bara yang disulut itu adalah penghantar panas yang paling buruk dan kita tidak akan terluka ketika mencoba berjalan cepat melintasinya. Butuh waktu bagi kulit terluar telapak kaki untuk gosong.

Fenomena industri mitos ini memang menarik. Dan saya akui bahwa saya juga terseret ke dalamnya, termasuk menikmatinya melalui berbagai training motivasi dan mengembangkan diri. Lalu, datang kesadaran karena membaca dan membaca sehingga saya pun tidak mudah menerima atau meloloskan buku motivasi ketika saya bekerja di penerbitan. Saya kerap menemukan ‘kelucuan-kelucuan’ terhadap wacana yang dibawa sang motivator ke dalam buku. Ada yang membawa wacana bahwa uang dapat diperoleh dari mana pun, tetapi naskahnya justru ditawarkan dengan sistem beli putus dan harga sangat murah kepada saya. Saya kira sang penulis sedang mempraktikkan bahwa uang dapat diperoleh dengan menulis naskah tentang mencari uang.

Kaya, sehat, populer, rendah hati, dan terpuji…. Mimpi hidup kita yang kemudian dijawab para kaum New Age dengan wacana self-help-nya. Anda mau mengikutinya? Terpulang kepada Anda sebagai makhluk yang berpikir.

:: catatan kreativitas Bambang Trim

© 2012 oleh Bambang Trim

Sang Penjelajah Cerita

Terinspirasi dari karakter kanak-kanak Dora The Explorer, saya pun coba mengonsep bahan-bahan untuk meningkatkan literasi anak-anak dalam hal baca-tulis. Program ini saya lengserkan di Penerbit TS dengan nama The Story Explorer yang kemudian berhasil menerbitkan beberapa judul buku karya anak-anak. Lalu, saya pun meningkatkannya menjadi sebuah konten digital berbahasa Indonesia “Sang Penjelajah Cerita”.

Senang sekali melihat tampilan awal buku interaktif yang dikerjakan Mas Erwin Skripsiadi sudah menampakkan wujudnya. Buku interaktif ini akan menjadi satu paket program yang sementara bernama GEBRAK LITERASI. Gebrak Literasi adalah program menginstall daya literasi anak-anak mulai usai 7-12 untuk cergas dalam hal baca-tulis. Program ini dibuat dengan kegiatan menyenangkan, termasuk menyisipkan kegiatan bermusik lewat mencipta lagu dan puisi.

Memang program ini juga akan diikuti dengan workshop offline yang dapat diselenggarakan berbagai kalangan dan kami akan membantu metode pelatihan agar anak-anak mau serta mampu menulis dengan baik, terutama dalam hal bercerita. Tiga materi yang menjadi muatan konten adalah menulis cerita, menulis puisi, dan menulis surat berunsur cerita serta puisi.

Buku interaktifnya sendiri siap dijalankan di PC, atau ditanam dalam perangkat tablet, seperti iPad, Samsung Galaxy Tab, ataupun Blackberry Playbook. Tidak hanya anak-anak, orang dewasa pun dapat memulai belajar bagaimana menulis cerita.

Ya, program ini semua bermula dari kegelisahan atau bahasa populernya sekarang kegalauan ketika melihat kemampuan literasi sebagian besar anak-anak kita yang rendah. Padahal, Indonesia kaya akan kearifan lokal yang dapat menjadi bahan dasar (ide) literasi. Bayangkan, jika mau sedikit meriset dan berimajinasi, kita dapat mengembangkan dongeng atau cerita tentang pulau-pulau terdepan (terluar) di Indonesia atau mungkin kisah keindahan bawah laut di Raja Ampat, Papua.

Kegelisahan ini memperlihatkan momentumnya bagaimana kemudian para calon sarjana dibuat waswas dengan surat edaran dari Dikti tentang kewajiban harus menulis makalah/karya ilmiah yang dipublikasikan di jurnal ilmiah. Waswas karena para calon sarjana minim atau bahkan tidak sama sekali pernah mendapatkan pelajaran alur berpikir standar dalam menulis: prewriting-drafting-revising-editing-publishing.

Karena itu, keandalan literasi harus menjadi keandalan daya saing bangsa ini. Literasi juga berguna untuk mengontruksi mindset generasi kita seperti yang dilakukan Jepang lewat kisah Kapten Tsubasa sehingga sepak bola Jepang dapat naik prestasinya ke tingkat internasional.  Saya pun teringat akan gagasan KPK untuk menerbitkan karya literasi anak dengan topik antikorupsi. KPK sedang mengontruksi perikehidupan antikorupsi kepada anak-anak lewat karya literasi. Keberhasilannya sangat bergantung pada seberapa besar anak-anak mampu mengapreasiasi sebuah karya literasi–artinya seberapa mampu anak-anak beradaptasi dengan alam literasi itu sendiri, terutama basic literacy (membaca-menulis-berbicara-menyimak).

Semoga buku interaktif plus buku konvensional yang berfungsi sebagia modul workshop ini dapat rampung secepatnya. Lalu, program GEBRAK LITERASI pun akan bergulir menjadikan anak Indonesia cergas menulis….

 

:: catatan kreativitas Bambang Trim

© 2012 oleh Bambang Trim

 

 

Gebyar-Gebyar Industri Penulisan

Di dunia ini, bidang manakah yang bisa lepas dari kegiatan tulis-menulis?*)

Kata-kata ini selalu saya selipkan di antara materi training kepenulisan yang kerap saya bawakan pada berbagai kesempatan. Saya sangat senang mengutip ungkapan favorit dari Dan Poynter, god father ribuan buku di AS, yang berbunyi “Writing is not a job; it’s a business”. Fenomena pengelolaan informasi yang dari hari ke hari kerap mengejutkan membuat saya berpikir bahwa penulisan pun memang telah menjelma menjadi industri (mungkin juga telah lama) atau kemudian saya menyebutnya sebagai industri ‘konten’ (padanan dari content yang belum di-Indonesiakan).

Amazon Bakal Menggusur Penerbit Konvensional

Tulisan Brad Stone di Bloomberg Businessweek yang sempat diposting versi terjemahannya di web Mizan mengabarkan bagaimana raksasa toko buku online Amazon.com berpotensi membuat para penerbit besar gulung tikar. Pasalnya, mereka mulai melihat kedigjayaan penjualan buku elektronik yang merambat naik, sementara buku cetak (konvensional) dalam satu dekade terakhir penjualannya stagnan–bahkan terjadi penurunan pada rentang 2010-2011. Laurence J. Kirshbaum, yang ketika itu memimpin kelompok penerbitan buku Time Warner, direkrut oleh boss Amazon, Jeffrey P. Bezos, Mei 2011 lalu untuk mendirikan penerbitan buku sendiri dengan misi menghimpun semua karya penulis terkemuka dan diterbitkan secara elektronik.

Dengan enteng dalam sebuah wawancara, VP penerbitan Amazon, Jeff Belle, mengatakan bahwa mereka hanya ingin bereksperimen di tengah booming-nya e-book saat ini dan sama sekali tak bermaksud menggulung The Big Six–Random House, Simon & Schuster, HarperCollins, Penguin, Hachette, dan Macmillan.  Namun, bagaimanapun hal ini telah mencemaskan kalangan penerbit buku konvensional yang masih mengandalkan penjualan buku cetakan.

Belle menambahkan, “Ini hanya semacam laboratorium in-house di mana penulis, editor, dan pemasar menguji gagasan-gagasan baru.
Sukses bagi kami adalah bekerja dengan penulis yang ingin menemukan cara baru untuk bisa terhubung dengan pembacanya.”

Wow, ini soal bahwa industri penulisan tidak ikut mati dengan berubahnya teknologi dari masa ke masa karena tulisan itu adalah ide dan ide itu adalah konten yang diperlukan umat manusia, apa pun bentuknya. Tidak ada hubungan langsung atau pengaruh signifikan terhadap budaya literasi, kecuali produksi penerbitan kini semakin efisien dengan bentuk digital dan perubahan model bisnis yang lebih sederhana, tetapi dapat menghasilkan profit berkali lipat.

Bezos memang tidak main-main ketika ia menyuntikkan darah baru bagi dunia kepenulisan dengan memberi advance fee (uang muka royalti) sangat besar, termasuk iming-iming royalti lebih tinggi. Ya, Bezos dapat menghemat banyak biaya dari rentang operasional  penerbitan konvensional dan penghematan itu dialihkannya untuk menarik hati para penulis dengan bayaran tinggi.

Secara sembunyi-sembunyi para eksekutif penerbitan besar itu menyatakan keberatannya dengan cara Bezos. Mereka juga menganggap Kirshbaum adalah ‘orang berbahaya’ yang menjalankan ide-ide penerbitan ini. Kalangan penerbit Amerika-Eropa mengenal Kirshbaum sebagai orang yang punya insting bagus dalam menemukan buku-buku best seller, sudah pula menikmati asam garam bereksperimen dengan e-b00k, termasuk merugi karenanya. Jadi, kehadiran Kirshbaum di dalam gagasan bisnis e-book Bezos dapat menjadi ancaman yang menyeramkan.

Demikian, bagaimana kedigjayaan orang yang menguasai ide-ide dapat menakutkan bagi seorang raksasa sekalipun. Namun, di sisi lain, dunia kepenulisan tetap hidup dan bersemangat.

Majalah Detik, Siapa Mau Melawan?

Fenomena lain yang cukup mengundang sedikit kekagetan di tanah air adalah terbitnya majalah detik secara online dan dapat diunduh gratis versi digitalnya untuk dibaca di perangkat PC, notebook, netbook, ataupun yang lebih canggih dengan menggunakan bilah i-Pad dan tablet-tablet lainnya. Tampilan Majalah detik tidak kalah dengan majalah berita yang sudah lebih dulu kondang dengan format majalah investigasi. Saya kira para petinggi dari Gatra ataupun Tempo segera tidak bisa tidur nyenyak melihat penetrasi detik.com yang makin ‘menggila’ sejak diakuisisi CT.

Namun, bagi para penulis, ini industri yang makin asyik untuk dimasuki. Konten-konten pastilah menjadi bahan baku yang dibutuhkan dari hasil kompetisi antara media konvensional dan media elektronik berbasis internet seperti saat ini. Para penulis makin mudah mengekspresikan gagasannya dalam bentuk tulisan, misalnya dengan memanfaatkan wadah yang disediakan detik.com, seperti blog detik, pengisi tulisan di rubrik detik.com, ataupun nanti ikut berkontribusi di majalah detik. Saya pun akan mengira detik sudah menyiapkan ranah-ranah lain dalam penetrasi digitalnya, seperti ranah konten untuk religi, ranah konten untuk anak, dan bahkan ranah konten untuk edukasi. Alhasil, akan dibutuhkan banyak penulis di berbagai ranah yang mengusung ide-ide segar.

Saya yakin group Kompas pun sebagai raksasa media tidak akan berdiam diri dengan berbagai inovasi di dunia konten digital seperti ini. Karena itu, persaingan pun akan segera dimulai dan tentunya juga termasuk bagaimana mendapatkan konten-konten inspiratif dan inovatif dari para penulis yang dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan penerbitan masa kini.

Paksaan Menulis dari Dikti

Terakhir dalam bidang edukasi yang sama-sama kita ketahui bagaimana tiba-tiba Dirjen Dikti mengeluarkan surat edaran yang membuat waswas para mahasiswa dari S1 sampai dengan S3 karena diwajibkan menulis makalah di jurnal ilmiah, skala lokal, nasional, dan internasional. Sontak keputusan ini menimbulkan pro dan kontra karena belum tentu mendorong mahasiswa melakukan riset dan menulis. Alih-alih mereka dipaksa menulis makalah, malah kemudian mereka menggunakan jalan pintas mengalihdayakan penulisan makalah kepada orang lain. Ungkapan bernada kritik ini disampaikan Frans Magnis-Suseno di rubrik opini Kompas dan juga Ajip Rosidi di Pikiran Rakyat.

Menulis pun menjadi sesuatu banget. Para penulis yang memang bertipikal melihat peluang apa pun akan merasa edaran Dirjen Dikti ini sebagai darah baru bagi mereka. Mereka akan membuka layanan pembuatan makalah ataupun mengadakan training-training penulisan makalah bersertifikat dan ujung-ujungnya juga menawari para calon sarjana tadi yang tetap berkesulitan untuk pendampingan penulisan makalah agar lulus ujian sarjana. Di sisi lain bisnis penerbitan jurnal pun akan tumbuh mengingat daya tampung terbatas dari jurnal-jurnal yang sudah ada dibandingkan dengan jumlah mahasiswa Indonesia yang luar biasa (UT termasuk universitas di dunia dengan jumlah mahasiswa terbesar). Lalu, jurnal-jurnal digital atau online pun menjadi pilihan paling mudah.

Segera akan muncul pasar model baru di bidang penulisan makalah–meskipun praktik seperti ini sudah ada beberapa tahun lalu, masa sekarang akan lebih masif dengan edaran Dikti. Para penulis yang kebablasan bisa saja membangun sebuah toko online yang menyediakan aneka makalah aneka judul sehingga dapat dipesan secara online. Inilah peluang bisnis baru yang menggiurkan, sekaligus mengerikan bagi pengembangan kemampuan literasi kita karena ada saja orang-orang yang berpikir jalan pintas.

***

Bagaimanapun dunia penulisan itu luas sekali dan masuk ke berbagai relung kehidupan; bukan hanya akademis, melainkan juga bisnis dan hiburan. Para penulis yang mampu beradaptasi dengan gerakan industri ini akan punya semangat lebih mengasah kemampuan teknis menulisnya ke dalam berbagai jenis dan ranah/laras penulisan asalkan tetap menjunjung tinggi kode etik penulisan. Menulis bukan sekadar menulis novel atau buku-buku how to dan motivasi, menulis bisa menyasar ke manapun dan  menjadi bisnis konten (gagasan/ide yang dituliskan menjadi sebuah konsep) yang berprospek dari masa ke masa.

Buku-buku konvensional pun belum pula akan menemui ajalnya, terutama di Indonesia karena di luar penerbit, masih ada kementerian, BUMN, dan perusahaan swasta yang membutuhkan konsep penulisan buku; baik sebagai program pencitraan maupun CSR. Karena itu, para penulis dituntut juga menjadi pengonsep gagasan-gagasan baru, inspiratif, dan inovatif untuk diwujudkan menjadi buku dan seterusnya juga dapat diwujudkan menjadi workshop ataupun pelatihan-pelatihan. Saya malah menyarankan dua hal sekaligus yaitu menguasai teknik penulisan serta juga menguasai teknik pengembangan tulisan menjadi konten digital dengan penambahan audio dan visual.

Gebyar-gebyar penulisan menjadi industri ini memang akan terus berkibar. Karena itu, saya mendirikan dua lembaga sekaligus, yaitu Dixigraf Publishing Service yang nantinya menjadi perusahaan pengembang konten (baik konvensional maupun digital) dan juga Trim Komunikata yang merupakan perusahaan jasa di bidang konsultasi dan training penulisan-penerbitan untuk mengantisipasi kebutuhan para penulis di institusi manapun. Pengalaman 15 tahun di bidang perbukuan, media massa, dan juga training kepenulisan membuat saya yakin untuk beradaptasi dengan industri arus informasi ini dengan mengandalkan tulisan sebagai bahan baku konten yang utama.

Selamat merenung…. :)

 

*) ungkapan ini akan Anda dengar kembali penjabarannya secara nyata dalam Book Writing Revolution Training pada 16-17 Feb 2012 di Hotel Bumi Sawunggaling. Don’t miss it! Hubungi Irma 081320200363.

 

:: catatan kreativitas Bambang Trim

© 2012 oleh Bambang Trim

Mengkhayalkan “Big Picture”

 Bambang Trim siap memandu Anda menemukan big picture dalam Book Writing Revolution Training Batch #3, 16-17 Februari 2012, @Bandung

Kerapkali hasrat menulis begitu menggebu. Namun, ketika sudah duduk dan tinggal menulis, kita malah diam menunggu. Entah apa yang ditunggu. Mungkin wangsit yang tak kunjung datang.

Menulis memang selalu diawali dari ide atau gagasan yang kemudian turun menjadi topik. Ide itu banyak, topik juga banyak dan dapat dituliskan dalam frasa atau satu kalimat. Akan tetapi, tetap saja mengalirkannya dalam kalimat jadi kesulitan tersendiri.

Itulah mengapa kemudian proses menulis dibuat dalam alur yang standar dan menjadi kurikulum menulis paling populer digunakan di luar negeri. Anda mungkin telah mengenali alur ini, yaitu prewriting-drafting-revising-editing-publishing. Dua proses pertama itulah proses tersulit dalam produktivitas menulis.

Prewriting memang mengandalkan pekanya pikiran kita untuk bertemu dengan ide-ide biasa yang kemudian dituliskan menjadi luar biasa atau ide-ide tidak biasa yang kemudian dituliskan orang dapat menerimanya. Setiap ide harus diolah menjadi gambaran besar (big picture) sebuah tulisan. Karena itu, gambar besar dalam teknik mind mapping Tony Buzan diletakkan di tengah sebagai topik utama. Lalu, gambar itu pun dipecah-pecah menjadi suatu pola dengan jejaring.

Drafting adalah mengeksekusi gambaran besar tadi menjadi tulisan sekali duduk. Ya, dalam membuat draft atau buram (rough) kita memang menggunakan teknik free writing sehingga sekali duduk langsung jadi satu tulisan atau satu bab. Menulis bebas yang penting gambaran besar dan pola-pola jejaring tadi dapat diwujudkan menjadi tulisan meskipun hanya beberapa paragraf yang terdiri atas beberapa kalimat.

 

Ada satu hal yang membuat proses prewriting –> drafting ini menjadi taktis dan tidak perlu membuang waktu banyak. Proses itu adalah mind connecting yaitu kemampuan mengoneksi ‘big picture’ ke bahan-bahan yang mungkin diolah. Bahan utama itu adalah pengalaman kita ditambah pengalaman orang lain. Lalu, bahan utama kedua adalah bacaan yang pernah kita baca apa pun itu, di mana pun, dan syukur-syukur bacaan itu telah menjadi koleksi kita–syukur-syukur lagi tidak hilang.

Itulah mengapa ‘membaca’ itu penting bagi proses kreatif penulisan dan kemampuan yang juga penting mengalibrasi bacaan tersebut. Seorang penulis yang membaca tidak sekadar membaca, tetapi menyimpannya dalam memori ingatan untuk nanti sewaktu-waktu dapat dikoneksi, baik itu judul, penulis, maupun isi tulisan. Begitupun ketika seorang penulis melihat tulisan orang lain, dia pun dapat mengoneksi tulisan itu dengan bahan-bahan yang mungkin dibaca oleh penulisnya atau malah tidak dibaca dan terlewatkan oleh penulisnya.

Di luar membaca, mind connecting juga mampu menghubungkan kita dengan ‘orang’ untuk ditanyai perihal yang hendak kita tulis. Misalnya, dengan facebook ataupun yahoo yang menyediakan fasilitas chat, pikiran kita langsung terkoneksi dengan orang yang patut ditanyai melalui chat tentang topik yang sedang kita tulis. Salah mengoneksi ya akan mendapat jawaban yang keliru. Jika kita menggunakan search engine, mind connecting akan bekerja mengoneksi pikiran kita pada kata-kata kunci untuk diketikkan di Google misalnya. Mind connecting juga dapat kita gunakan untuk mengoneksi gambar-gambar ataupun ilustrasi yang dapat memperkuat tulisan kita serta menstimulus munculnya turunan ide-ide baru.

Big picture yang utuh memang harus ditemukan dengan mind connecting sehingga proses mind mapping pun akan bekerja dengan efektif. Big picture yang belum fix dapat membuat tulisan dibongkar ulang, bahkan ditulis ulang karena diubah keseluruhannya. Proses menulis pun menjadi tersendat dan memerlukan mood baru untuk menyelesaikannya, kecuali Anda memang begitu bersemangat.

Memang menulis seperti menggabungkan potongan pasel menjadi gambaran utuh. Atau gambaran utuh tadi memang dapat kita lihat sebagai sekumpulan potongan pasel. Potongan pasel inilah yang tersembunyi di benak kita dan memerlukan kemampuan mengoneksi untuk menemukannya. Unsur yang bernama kretivitas juga akan terdorong dengan berbagai eksperimen model penulisan yang kita buat.

Untuk itulah dalam penulisan buku nonfiksi saya selalu memandu para calon penulis mengenali lebih dulu jenis atau tipe outline dan kemudian memilih salah satu outline itu untuk melukiskan big picture milik mereka. Memang setelah itu diperlukan pancingan-pancingan agar big picture itu kemudian menjadi ‘hidup’ untuk dituliskan ataupun mengikuti tren dan memiliki keunikan tersendiri.

Proses kreatif penulisan sangatlah unik dan setiap penulis yang sudah ‘menjadi’ memiliki banyak kisah tentang proses kreatif mereka. Namun, proses atau alur mulanya sama yaitu prewriting dan drafting. Dan big picture itulah yang kadang sudah terlukis di benak sehingga mengganggu pikiran untuk segera dituliskan….

Selamat menemukan big picture tulisan Anda.

 

:: catatan kreativitas Bambang Trim

©2012 oleh Bambang Trim

 

WRITER INCUBATOR

Siang, 6 Februari 2012, setelah lebih dari sebulan meninggalkan Solo, saya berkesempatan lagi menginjakkan kaki ke kota yang penuh nuansa keunikan ini. Kali ini saya membuat janji bertemu di Kopi Tiam Oei bersama Mas Erwin Skrip….

Perbincangan kami tidak lepas dari soal pengembangan konten-konten digital. Mas Erwin sudah lebih dari dua bulan ini membantu saya mengembangkan konten-konten digital literasi. Bahkan, beliau juga dengan segala kebaikannya akan segera merampungkan blog manistebu ini menjadi website resmi saya.

Kami memang sedang menyiapkan pekerjaan yang bukan sembarang. Pekerjaan yang menguras daya kreativitas, tetapi dilakukan dengan rasa senang bukan alang kepalang. Kami sedang melihat blue ocean bisnis di bidang kepenulisan.

Salah satu ide sambil lalu yang kami bicarakan adalah WRITINCT. Saya segera menyambar konsep ini untuk dinamai WRITINCT yaitu singkatan dari WRITER INCUBATOR. Kami akan membuat sebuah wadah digital untuk ‘mengerami’ banyak naskah dari penulis dan dihubungkan dengan para penerbit yang membutuhkan sehingga akhirnya ‘menetas’ menjadi buku. Insya Allah konsep ini akan dikerjasamakan dengan IKAPI dan kebetulan saya memang saat ini menjabat sebagai Ketua Kompartemen Diklat, Litbang, serta Informasi PP IKAPI.

WRITINCT akan menjadi wadah digital bagi para penulis memublikasikan secara awal naskahnya berikut ‘brief for publisher’ sehingga kemudian menarik hati penerbit untuk bekerja sama. Ada fitur-fitur yang membantu para penulis untuk mengonsep naskahnya dan juga ada fitur-fitur yang membantu penerbit mengenali potensi naskah. Tentu wadah digital ini akan dijaga seorang editor andal dan layanan ini akan disediakan secara free alias gratis bin percuma.

***

Baru sebatas konsep dan bagaimanapun konsep akan diuji serta diteliti efektivitasnya. Namun, ini adalah semacam langkah kecil untuk menampung kreativitas yang makin menggunung, terutama di dunia kepenulisan.

:: catatan kreativitas Bambang Trim

©2012 oleh Bambang Trim

Pusing-Pusing Self-Publishing

Sebenarnya saya sudah pernah menulis tentang self-publishing di blog ini. Namun, tergerak hati menuliskannya kembali sekadar berbagi tentang praktik self-publishing yang tengah mem-booming ini di Indonesia. Apakah ini gejala yang kurang baik? Saya tidak ingin menghakimi karena self-publishing sebuah pilihan bebas bagi setiap warga negara dan termasuk juga telah mengakar menjadi budaya di Amerika. Kehadiran self-publisher membuat dunia penerbitan buku menjadi semarak. Namun, khusus di Indonesia kadang-kadang memang menjadi bikin pusing (pening).

Kali pertama dalam sejarah berdasarkan data di Wikipedia bahwa pada 2008, banyaknya buku yang diterbitkan secara mandiri (self-publishing) melebihi buku yang diterbitkan secara tradisional (melalui penerbit). Begitupun di Indonesia, self-publishing sontak menjadi ide baru bagi para penulis buku yang selama ini mengalami kepusingan berhubungan dengan penerbit tradisional, baik kelas minor, middle, maupun mayor karena ditolak berkali-kali.

Nah, self-publishing yang menggejala ini pun diramaikan dengan asumsi yang membuat pusing. Lalu, kita pun berpusing-pusing (berputar-putar, dlm bahasa Melayu) tentang terminologi self-publishing–yang beberapanya telah menjadi salah kaprah.

Terus terang, saya tersenyum masam ketika membaca posting sebuah layanan self-publishing di internet. Ada embel-embel iklan: “naskah Anda tidak akan diedit”. Waduh, bagaimana mungkin sebuah jasa penerbitan (publishing service) yang membantu para self-publisher tidak melakukan editing naskah. Inilah salah satu yang salah kaprah.

Dan Poynter Menginspirasi Saya

Dan Poynter disebut-sebut sebagai god father ribuan judul buku di AS. Poynter memang tukang kompor orang untuk segera menerbitkan bukunya sendiri. Buku karyanya yang sangat populer The Self Publishing Manual: How to Write, Print and Sell Your Own Book sudah mengalami cetak ulang belasan kali. Poynter sendiri mengalami penolakan yang menyakitkan untuk naskah pertamanya tentang parasut (The Parachute Manual).

Lalu, dimulailah petualangannya menerbitkan sendiri dan sukses dengan mendirikan Para Publishing. Poynter akhirnya menyebarkan pengetahuannya menerbitkan buku sendiri dan mengelola pemasarannya sendiri ke banyak orang. Dan saya termasuk yang terkompori oleh Dan Poynter.

Saya lalu menerbitkan buku Menggagas Buku dengan nama penerbit Bunaya Kreasi Multidimensi. Buku ini saya layout sendiri, covernya saya alihdayakan pengerjaannya kepada seorang desainer cover jebolan Rosdakarya. Naskah itu pun saya edit sendiri, lalu saya cetak di sentra percetakan kecil, Jalan Pagarsih, Bandung. Kemudian, mulailah saya memasarkan buku itu sendiri dibantu seorang teman. Saya mengerjakan semuanya dari rumah. Namun, kemudian Bunaya tidak lagi menjadi self-publisher karena menerbitkan satu buku karya orang lain. Dua buku lain yaitu buku anak tetap merupakan karya saya, yaitu Ramadhan Ceria dan buku kumpulan cerita Alkisah. Jadi, dari A-Z saya mengurusnya. Ini saya lakukan pada 2000 ketika keluar dari Penerbit Grafindo.

Jadi, pengertian self-publishing sesungguhnya adalah menerbitkan buku karya sendiri yang dilakukan sendiri oleh penulisnya, termasuk mengelola produksi buku tersebut hingga pemasarannya. Boleh saja kemudian sang penulis mengalihdayakan beberapa pekerjaan kepada penjual jasa penerbitan (publishing service), seperti editing, desain (interior/eksterior), hingga marketing. Namun, tetap saja ia yang mengelola full, menetapkan harga jual, menetapkan oplag cetak, hingga memilih cara-cara penjualan.

Ciri self-publisher yang kentara adalah nama penerbitnya juga ditentukannya sendiri, bahkan mungkin beralamat rumahnya yang merangkap sebagai kantor. Apakah perlu berbadan hukum? Di Indonesia tidak ada aturan penerbit harus berbadan hukum. Namun, dalam konteks bisnis lebih luas, badan hukum harus dipertimbangkan para self-publisher untuk menjual buku-bukunya secara lebih luas dan bekerja sama dengan distributor atau toko buku. Jadi, sangat mungkin ada self-publisher yang tidak berbadan hukum dan ada pula yang sadar bisnis kemudian mendaftarkan perusahaannya menjadi berbadan hukum.

Apabila self-publisher kemudian tergoda menerbitkan buku orang lain walaupun itu istri/suami, anak, atau saudaranya sendiri, sang penerbit bukan lagi disebut self-publisher (penerbit swakelola), melainkan sudah menjadi penerbit tradisional seperti layaknya penerbit buku biasa.

Self-publisher punya sebutan lain yaitu independent publisher yang mengesankan kebebasan mereka untuk menerbitkan bukunya sendiri tanpa tersandung aturan yang biasa diberlakukan penerbit tradisional. Di arena Frankfurt Book Fair, saya pernah melihat satu area yang disewa oleh asosiasi penerbit independen di sana. Ya, para penerbit independen atau swakelola di sana memang sudah sangat kuat sehingga membentuk asosiasi sendiri untuk saling bertukar informasi.

Vanity Publisher Bukan Self-Publisher

Semangat menerbitkan buku sendiri di Indonesia, lalu melahirkan bisnis baru. Patut dicermati bisnis di bidang penerbitan ini.

Pertama, adalah munculnya bisnis publishing service yang memberi layanan alihdaya editorial penerbitan hingga ke tahap cetak.  Belakangan bisnis ini pun dikenal dengan nama lain book packager (perajin buku) yang kurang lebih pekerjaannya sama. Bisnis ini mengandalkan order dari para penerbit tradisional (middle dan major) untuk mengerjakan beberapa pekerjaan editorial, termasuk akuisisi naskah. Saya sendiri sejak 2007 sudah menjalankan bisnis ini secara serius. Sebelumnya pada 1994 saya sempat mendirikan publishing service bersifat lokal di Bandung bersama teman-teman satu alumni Editing Unpad. Lalu, saya mendirikan perusahaan sendiri bersama kakak saya bernama Intimedia Persada dengan modal 2 unit Macintosh dan 1 printer laser HP.

Sebenarnya pengguna jasa publishing service kebanyakan adalah para penerbit tradisional. Namun, lama-kelamaan perseorangan pun makin banyak menggunakan jasa ini untuk menerbitkan bukunya. Publishing service tidak menawarkan institusinya menjadi penerbit karena institusinya bukan penerbit. Karena itu, biasanya publishing service akan membantu Anda untuk memberi nama penerbitan Anda sendiri, membuatkan logo, serta menguruskan nomor ISBN yang khas untuk penerbit Anda.

Kedua, ini yang menjadi booming iming-iming self-publishing yaitu yang disebut vanity publisher. Vanity publisher saya terjemahkan saja sebagai penerbit bersubsidi. Penerbit ini didirikan dengan badan hukum dan sudah memiliki nomor ciri ISBN. Namun, penerbit ini hidup dari buku-buku orang lain yang ingin diterbitkan dengan membayar (subsidi). Jadi, penerbit semacam ini menjual jasa menerbitkan naskah Anda dengan menggunakan ‘bendera’ penerbitan mereka, sekaligus juga membantu penjualannya. Vanity publisher mendapatkan profit biasanya dari jasa editorial dan jasa cetak, jarang sekali dari jasa penjualan.

Shum FP, salah seorang akademisi bidang penerbitan dari University of Stirling di Inggris dalam tesis masternya tentang self-publisher yang pernah diterbitkan di Malaysia jelas-jelas menolak penggunaan vanity publisher tergolong sebagai self-publishing. Shum menganggap praktik self-publishing seyogianya semua kontrol ada di tangan penulisnya sekaligus menjadi penerbit. Vanity publisher menurutnya hanya membuat bias dari apa yang disebut self-publishing.

Apalagi, beberapa praktik dari vanity publisher kerap menjadi modus penipuan kepada para penulis yang tidak mengerti proses penerbitan sesungguhnya. Praktik vanity publisher banyak menimpa para dosen yang mengejar kumulatif indeks untuk naik pangkat dengan menerbitkan buku. Vanity publisher dengan senang hati menawarkan institusi penerbit mereka untuk menerbitkan karya sang dosen, mencarikan ISBN untuk bukunya, lalu mencetak dan menjualnya. Praktik penipuan sering terjadi pada biaya cetak yang dilambungkan, spesifikasi cetak yang diganti, oplag cetak yang dikurangi, dan hasil penjualan yang tidak jelas.

Dengan masuknya teknologi print-on-demand (POD), vanity publisher menjadi lahan baru yang menarik. Tercatat beberapa orang mendirikan perusahaan penerbitan untuk menampung karya-karya yang mereka sebut self-publishing. Silakan Anda buat naskah apa pun, kami siap menerbitkan asalkan Anda membayar untuk biaya editorial dan cetak sekian. Impian Anda menjadi penulis buku pun cepat terwujud tanpa berlelah-lelah menawarkan ke penerbit tradisional. Hanya memang Anda harus merogoh kocek sendiri.

Tentu ini praktik legal dalam dunia penerbitan meskipun ada anggapan minor tentang praktik ini di luar negeri. Kadang-kadang kemudian praktik ini berkembang menjadi kerja sama bisnis joint venture. Sebenarnya praktik ini sama saja dengan Anda mendatangi penerbit tradisional dan Anda berharap naskah Anda diterbitkan di penerbit itu dengan iming-iming semua biaya Anda yang tanggung atau iming-iming lain bahwa semua buku yang diterbitkan langsung Anda beli cash. Saya jamin ada banyak penerbit yang mau melakukannya untuk zaman kini.

Nah, yang patut disoroti adalah vanity publisher yang sama sekali tidak bertanggung jawab. Naskah Anda benar-benar jadi buku, tetapi buku yang tidak layak terbit secara content maupun context. Tidak ada orang yang mau membaca, apalagi membeli buku Anda. Namun, Anda sudah puas karena buku sudah terbit. Sang penerbit juga segera cuci tangan karena mereka sudah meraih untung dari selisih biaya editorial dan biaya cetak.

***

Semoga tidak menambah kepusingan Anda soal self-publishing. Mau tahu lebih jauh? Silakan ikut Book Writing Revolution Training, 16-17 Februari 2012 di Hotel Sawunggaling, Bandung. Hanya dengan investasi Rp500 ribu selama 2 hari, Anda akan mendapat segudang informasi tentang seluk-beluk dunia penulisan-penerbitan buku di Indonesia. Tempat terbatas 25 orang dan ini training terakhir berharga sangat hemat dengan fasilitas handout eksklusif, CD pdf materi presentasi, makan siang + kudapan, sertifikat, dan keanggotaan otomatis di Akademi Penulis Indonesia. Kontak Irma 081320200363

Jangan mau lagi disebut orang awam dalam dunia penulisan-penerbitan buku.

:: catatan kreativitas Bambang Trim

©2012, oleh Bambang Trim

Buku Bermuatan 3K, Bakal Dicari Para Penerbit

Bidang apa pun selalu didasari pada ide untuk menggerakkan langkah-langkah pembaruan. Begitupun Depdikbud yang tengah menggodok kurikulum baru dengan nama sementara kurikulum berbasis karakter. Namun, tren, amanat pembangunan, dan juga kebutuhan mendorong dua ide lain untuk masuk ke dalam kurikulum pembelajaran yaitu kewirausahaan dan kreativitas (ekonomi kreatif).

Saya tidak membahas soal kurikulumnya, tetapi saya memandang dari sisi seorang penulis dan editor buku bagaimana sebuah konten buku harus diramu dengan bahan 3K (karakter, kewirausahaan, dan kreativitas untuk mengembangkan ekraf). Bagi saya ini sebuah tantangan, bukan sebuah kebingungan karena tetap ada korelasi antara pembangunan karakter dan penanaman semangat kewirausahaan dalam ranah ekonomi kreatif.

Jelas bahwa sebuah kurikulum yang hendak diterapkan pada sebuah bangsa harus mengacu pada life skill (keterampilan hidup) dan kebutuhan masa mendatang yang akan dimainkan peranannya oleh generasi muda. Negara kita, khususnya para pemangku kepentingan memang seperti ‘baru bangun tidur’. Baru sadar bahwa bangsa Indonesia sudah kehilangan karakter aslinya yaitu karakter-karakter positif yang melahirkan ribuan kearifan lokal dari 33 provinsi. Baru sadar bahwa bangsa Indonesia membutuhkan lebih dari 4% entrepreneur dari seluruh jumlah penduduknya. Baru sadar bahwa negara ini berpotensi mengembangkan ekonomi kreatif dalam 14 ranah yang sebagian besar sumberdayanya (baik manusia maupun alam) sungguh melimpah di Indonesia.

Buku Bermuatan 3 K

Buku termasuk media pembelajaran sangat efektif, tidak lekang oleh zaman, dan selalu digunakan hingga kini. Tidak gampang memang menciptakan sebuah konten/muatan dalam buku teks maupun buku nonteks sambil meramu atau mengintegrasikan submuatan karakter, kewirausahaan, dan ekonomi kreatif (3K). Alhasil, seorang penulis buku perlu memahami bukan hanya bidang atau mata pelajaran yang akan dituliskan, melainkan juga harus memahami konteks 3K yang akan ‘ditanamkan’ ke dalam buku.

Teknik meramu tulisan dengan konten/muatan banyak seperti ini dan harus tampak harmoni dalam penulisannya memang efektif dengan menggunakan metode matriks isi atau frame work. Matriks akan membuat ide-ide berkembang menjadi sub-sub ide yang dapat diwujudkan dalam berbagai kreativitas penulisan.

Betul, saya lagi membahas soal proses kreatif sebuah buku yang topiknya sudah ada dan kita ditantang untuk mengembangkannya. Anda harus melihat bahwa kewirausahaan (entrepreneurship) adalah sebuah sikap atau ruh untuk menjalankan suatu usaha. Sikap atau ruh tadi dipengaruhi berbagai karakter baik dan karakter kuat, seperti jujur, percaya diri, rendah hati, tidak mudah menyerah, dan disiplin. Nah, implementasi sikap dan karakter tadi dapat diterapkan dalam berbagai ranah kreativitas, seperti kerajinan, musik, penulisan, program televisi/radio, games, fotografi, dan fesyen dalam konteks ke-Indonesiaan.

Tentu ketika Anda sudah dapat menjiwai muatan 3K ini maka akan mudah bagi Anda mengimplementasikannya ke dalam tulisan dalam bidang/mata pelajaran apa pun. Karena itu, praktik membaca begitu banyak literatur, kemudian mengikuti berbagai event tentang ketiga topik itu, ataupun menyimak berita/talkshow di televisi/radio akan mengayakan wawasan Anda. Lalu, buku bermuatan inilah yang kemudian akan diburu banyak penerbit di Indonesia yang notabene berkecimpung di penerbitan buku edukasi.

Penulis juga Peramu

Kalau dukun Panaromix dalam kisah Asterix dapat menciptakan ramuan yang bikin bangsa Galia menjadi berkekuatan super, penulis buku juga sebenarnya mirip-mirip dukun yang membuat ramuan ajaib.  Ramuan berasal dari ide yang kemudian bahannya dikumpulkan dari konten-konten yang dibutuhkan. Masalahnya ketika bahan konten tadi sudah tersedia, yang tersisa adalah kebingungan meramunya. Ramuan tulisan memang tidak sama dengan rebusan sebab dialirkan dengan kata, frasa, klausa, kalimat, sampai pada paragraf. Di sinilah letak kesulitan tingkat tingginya dan pembaca harus merasa bahwa ramuan tulisan itu begitu nikmat dan menyehatkan–membuat mereka menjadi cerdas dan paham.

Teknik meramu inilah yang membutuhkan metode: prewriting-drafting-revising-editing-publishing. Memang tidak banyak penulis Indonesia yang menerapkan atau menguasai teknik meramu standar yang diajarkan di negara-negara maju tersebut. Ada yang merasa cukup untuk sekadar mampu mengalirkan tulisan begitu saja dengan pola-pola yang juga tidak mereka kenali, seperti pola tahapan, pola butiran, pola aliran, maupun pola campuran.

Anda yang mengikuti tulisan-tulisan saya di blog www.manistebu.wordpress.com pasti paham apa yang saya maksud dengan metode dan pola tadi. Nah, itulah mengapa ketika kita berhadapan dengan konten apa pun dan kita mampu menguasainya sebagai bidang keahlian kita atau bahkan mempelajarinya secara cepat, tidak masalah bagi kita untuk meramunya dalam bentuk apa pun.

Jika Anda memang masih penasaran, bolehlah bergabung pada training berbiaya hemat (hanya Rp500 ribu) selama 2 hari dengan tajuk “Book Writing Revolution” pada 4-5 Februari 2012 di Jogja, dan 16-17 Februari 2012 di Bandung. Training ini memandu Anda menguasai metode standar penulisan buku dan juga penerapan model outline matriks pada buku nonfiksi. Info training dapat menghubungi Heri Suchaeri untuk Jogja 0274-9566049 dan Irma untuk Bandung 081320200363.

Muatan 3K sekali lagi adalah tantangan untuk buku edukasi ke depan. Menarik!

:: catatan kreativitas Bambang Trim

komporis buku Indonesia

©2012, Bambang Trim

RINDU

Bukan karena jarak

bukan karena waktu

Rindu padamu karena dirimu

Bukan karena hilang dari pandangan

justru karena hadir di setiap selingan

Rindu padamu karena kesan

menghujam dalam hati juga pikiran

: meski kau ubah cinta

menjadi luka dan duka

Bukan karena berjarak

bukan karena bermasa

Rindu padamu karena diriku

takkuasa jua membalik arah

Angin yang meniupkan harum tanganmu

takkuasa jua aku menepuk cinta

 

:: Bandung, 30 Januari 2012

Menulis Memang Mengejutkan

Di tengah duka kehilangan ayahanda pada Rabu/25 Januari 2012, esok harinya saya harus mengisi workshop penulisan dan pengembangan buku panduan/modul bersubstansi integritas untuk para penggiat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mas Sandri Justiana, mantan mitra saya dalam dunia penerbitan buku yang kini berkhidmat di KPK telah beberapa minggu menghubungi saya. Saya tidak dapat membatalkan hadir dalam workshop karena tidak ada yang bisa menggantikan–selama ini dalam training relatif saya memang one man show disebabkan belum memiliki kader trainer yang bisa menggantikan.

Inilah workshop kali kedua saya menerapkan metode baru TRIM (topik-riset-inovasi-matriks). Meski hanya sehari (waktu yang kurang untuk sebuah workshop kepenulisan), saya dapat lepas berinteraksi dengan para ‘pejuang’ integritas di KPK ini dan mengompori mereka untuk segera menulis buku. Sore hari saya baru bisa terbang ke Medan dan tidak sempat melepas pemakaman jenazah ayahanda–ada rasa sedih yang menggantung.

Hanya dua hari di Medan, Sabtu saya kembali terbang ke Jakarta. Namun, saya pun luput memberikan materi terakhir untuk training The Story Explorer dan urung berjumpa dengan para sahabat-sahabat cilik calon penulis hebat. Ini sebuah kesedihan lain manakala saya tidak berkesempataan melihat ‘passion’ menulis dari banyak orang dan membuat mereka berdecak ‘wow’… ternyata menulis itu hebat!

Alhamdulillah, esoknya saya masih berkesempatan menyapa para sahabat-sahabat yang umumnya dari Komunitas Penulis Bacaan Anak (Pabers) dalam workshop terakhir First Novel yang diselenggarakan Tiga Serangkai. Sebanyak 35 orang saya ajak untuk melihat samudra buku anak melalui kesadaran melek literasi. Satu hari penuh saya berbagi bersama Mbak Ary Nilandari dan sekali lagi saya menemukan menulis itu memang mengejutkan!

 

Menulis Bermula dari Kesangsian

Banyak hasrat menulis dimulakan dari kesangsian: 1) sangsi tidak percaya diri; 2) sangsi tidak disukai; 3) sangsi ditolak penerbit; 4) sangsi tidak mampu menghidupi; 5) sangsi ditertawakan; 6) sangsi dalam soal waktu. Tidak ada penulis yang mengawali pilihannya menulis tanpa kesangsian. Wilayah ini memang tampak wilayah eksklusif meski ada beberapa orang yang menggampangkan soal tulis-menulis semudah membalikkan taplak meja.

Karena sangsi, lalu ada pernyataan tegas…. Jangan ragu-ragu. Kalau ragu-ragu, tinggalkan saja. Jangan coba-coba. Kalau coba-coba, nanti berbahaya. Menulis memang mendorong totalitas jika ingin terasa efeknya. Totalitas menggunakan pancaindra. Totalitas memanfaatkan waktu yang cuma 24 jam sehari. Totalitas menggerakkan kesempatan: baca-jalan-silaturahim.

Saya menghempaskan kesangsian ketika menyadari bahwa menulis adalah sebuah area ‘blue ocean’ yang tidak pernah menjadi merah. Genre menulis yang menghasilkan cabang dan ranting begitu banyak membuat saya sadar bahwa inilah ‘life skill’ paling penting pada abad informasi kini. Akarnya adalah gagasan-gagasan yang erat kaitannya dengan bagaimana cara pandang kita terhadap kehidupan di dunia fana ini. Bayangkan, hanya dengan memfokuskan diri pada dunia anak-anak, Anda sudah dapat menghasilkan berbagai bentuk tulisan berbasis anak-anak–sehari satu adalah sebuah keniscayaan jika Anda memang ingin mengejar Rekor MURI.

 

Menulis Memang Mengejutkan

Almarhum ayahanda mengajarkan saya untuk arif menulis. Ibunda menjejali saya kemauan untuk membaca dengan membelikan saya buku dan majalah. Ayahanda apik dalam menulis surat, laporan, studi kelayakan, menyukai lagu-lagu dan musik–meski beliau lebih populer sebagai ahli teknik untuk memancang mesin-mesin berbobot ton-an. Sempat saya berpikir menjadi ahli teknik seperti beliau.

Takdir membawa saya pada pekerjaan mengutak-atik tulisan, bukan mesin. Saya membokar sebuah wacana, mulai paragraf hingga pecahan kata. Lalu, saya harus mampu menyusun ulang kembali dengan tampilan yang lebih apik. Karena itu, saya harus menemukan dulu makna, baru kemudian saya menunjukkan makna itu kepada pembaca dengan rasa suka.

Menulis memang mengejutkan! Saya mampu memainkan peran dengan tulisan, menciptakan dunia yang akrab dengan pembaca atau dunia yang membuat mereka tercengang dengan mulut terbuka. Setiap generasi akan bertemu dengan tulisan; dan setiap tulisan (tentunya yang dibuat dengan kekuatan sepenuhnya) mampu memberi efek perubahan.

Meski demikian, tetap banyak orang yang terkejut dalam sisi lain. Mereka terkejut ketika harus menulis dan keterkejutan itu membuat mereka mengambil jalan pintas plagiat. Mereka merasa tidak harus malu karena menulis mereka pandang hanya susunan kata, kalimat, dan paragraf tanpa estetika dan etika.

Ada lagi yang terkejut karena ternyata mereka bisa menghimpun uang dan popularitas lewat menulis. Menulis mengejutkan mereka bisa begini dan begitu. Lalu, mereka pun memaksakan diri menulis dan terus menulis tanpa lagi membentuk makna keterbacaan sesungguhnya. Mereka kemaruk dengan tulisan sehingga tidak lagi “berpikir” ketika menulis, tetapi lebih didorong rasa lapar. Rasa lapar membuat para penulis ini memamah ide apa pun. Akhirnya, mereka terkejut karena kekenyangan–sebagian ide itu berpotensi menjadi penyakit.

***

Lebih dari sekadar menyusun atau menata, menulis juga pekerjaan mengoneksi. Inilah yang membedakan susunan ataupun komposisi sebuah tulisan berbeda antara satu dan lainnya karena ada juga keterampilan mengoneksi terhadap sumber ide, pengalaman, bahan bacaan, fenomena kehidupan, dan banyak hal lain. Seorang penulis adalah seorang konektor terhadap semua celah kehidupan, bahkan celah imajinasi.

Menulis memang mengejutkan…. karena Tuhan ternyata menggelontorkan ratusan bahkan ribuan ide seluas langit dan samudra untuk ditafakuri–dan orang-orang arif menyebutnya sebagai hikmah. Ide-ide itu ada yang tersimpan, ada yang berganti dari masa ke masa, dan ada yang menjadi takdir bertemu dengan penulisnya.

Karena itu, ide menulis adalah karunia yang harus disyukuri. Praktik menulis adalah keterampilan yang harus dilatih dan dimiliki. Benefit menulis adalah efek samping dan ganjaran dari rasa syukur serta ikhtiar yang dijalankan. Akibatnya yang baik bagi umat manusia adalah amal jariyah yang tak putus pahalanya meski maut menjemput.

 

:: catatan kreativitas Bambang Trim

komporis buku Indonesia

Post Navigation

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29 pengikut lainnya.