TrimKom Writing Course

TrimKom Writing Course (TWC) akhirnya menjadi nama yang dipilih oleh CV Trim Komunikata untuk mengintensifkan program kursus di bidang penulisan-penerbitan yang selama ini telah diselenggarakan. TrimKom akan fokus dalam penyelenggaraan pelatihan penulisan-penerbitan dalam bidang:

  • penulisan buku  (nonfiksi) populer;
  • penulisan buku akademis;
  • penulisan buku anak;
  • penyuntingan naskah;
  • penulisan untuk anak.

TrimKom Writing Course adalah program kursus mandiri yang diselenggarakan oleh TrimKom. Jadwal terdekat dari TrimKom Writing Course adalah tanggal 3-4 Mei 2014 yaitu Kursus Menulis Buku Populer di Hotel Bumi Sawunggaling, Bandung.

PromoTraining2014

TWC juga akan mengadakan program perdana kursus menulis dua hari untuk anak-anak (usia 9-12 tahun) untuk mengisi liburan sekolah. Program menulis ini, bahkan akan ditindaklanjuti langsung dengan penerbitan buku bersama karya anak-anak peserta TWC.

TWC menghimpun para alumninya untuk bergabung di TrimKom Writing Course Community (TWCC) yang sementara ini berinteraksi menggunakan fasilitas group di Facebook. TWCC menjadi sarana penghubung antarpeserta dan mentor/tutor TWC untuk mendapatkan pelayanan pendampingan penulisan. [BT}

Menyalahkan Para “Pemula”

Seolah menasihati diri sendiri, mulai ada wanti-wanti dalam diri saya untuk tidak memosisikan diri sebagai orang yang paling tahu, lalu bla-bla-bla saya mulai membuat tulisan tentang kesalahan para pemula dalam menulis atau dalam apa pun.

Namanya juga orang yang baru mulai menulis, tentu konsep try and error berlaku. Kalaupun ia kemudian tahu apa kesalahannya, biarkan berlaku secara alami atau kalau memang ia bersungguh-sungguh, biarkan ia mencari seorang mentor untuk menunjukkan kesalahan demi kesalahan yang dilakukannya. Atau mungkin lebih tepat bukan kesalahan, melainkan kelemahan-kelemahan atau kealpaan yang dilakukannya.

5Kesalahan

Contoh konyol membeberkan kesalahan para penulis pemula (tidak untuk ditiru)

Karena itu, saya mewanti-wanti diri saat ini untuk tidak membuat tulisan bertajuk 3, 5, 7, 11, 13, sampai dengan 101 kesalahan yang dilakukan para penulis pemula atau pemula-pemula lainnya. Ya, karena saya bukan pula seorang mentor yang luput dari kesalahan “para pemula” itu. Bukan pula mentang-mentang saya sudah menulis puluhan hingga ratusan buku, lalu saya berhak menyalah-nyalahkan para pemula yang sedang bereksperimen menemukan gaya penulisannya.

Saya lebih senang dengan cara berdialog untuk menunjukkan titik lemah dari kacamata sepengalaman saya–sebagai penulis dan tentunya juga sebagai editor. Lalu, berdiskusi bersama bagaimana kelemahan itu bisa dieliminasi. Nah, dialog yang efektif tentu di dalam event-event, seperti seminar, lokakarya, ataupun kursus yang saya isi.

Kalaupun ada yang mendorong saya untuk menulis tentang kesalahan-kesalahan, saya malah akan menjudulinya: “5 Kesalahan Penulis Pemula yang Tidak Perlu Anda Ketahui” dengan embel-embel disklaimer:  “Tidak Perlu Dibaca Karena Menggoyahkan Semangat”.

Biarlah saya berempati sebagai penulis pemula meskipun mereka mengatakan: “Aku ya rapopo ….” Tapi ya memang kalau ada yang menulis model kesalahan begini, tentu ia pun boleh dipastikan sudah pernah melakukan kesalahan tersebut. Gara-gara kebanyakan salah maka ia pun menuliskan kesalahan-kesalahannya sebagai ide dasar penulisan. Karena itu, segudang kesalahan itu boleh jadi akan menjadi ide brilian: membuat buku pintar tentang aneka kesalahan.

  • Buku Pintar 101 Kesalahan dalam Dunia Keperawatan
  • Buku Pintar 101 Kesalahan dalam Dunia Otomotif
  • Buku Pintar 101 Kesalahan dalam Pengasuhan Anak
  • Buku Pintar 101 Kesalahan … dan seterusnya

He-he-he bagaimanapun menyadari kesalahan sebenarnya adalah dorongan untuk melakukan sesuatu yang benar dan lebih baik. Tanpa ada kesalahan, orang tidak akan menemukan kebenaran. Jadi, mungkin itulah mengapa ada tulisan yang membeberkan kesalahan-kesalahan itu. Namun, tetap saja penulisnya memang seolah menjadi yang paling tahu dan bisa menjadi “dokter” penyembuh penyakit kesalahan itu.

Masbuloh … masalah buat loh? Ya nggak juga. Wong saya baru saja membeberkan “5 Kesalahan Penulis Pemula dalam Menulis Cerita Hantu” di atas. Tapi itu hanya joke karena saya sebenarnya tidak pernah menulis cerita hantu. Oh, pernah hanya sekali, di buku Alkisah terbitan Bunaya, sebuah cerpen misteri. Jadi itulah modal saya, baru sekali menulis cerpen misteri maka saya bisa menunjukkan kepada Anda kesalahan para penulis pemula dalam membuat cerita hantu. Gubrak! :)

Hak cipta © Bambang Trim 2014.

 

Kalau Tidak Sekarang, Kapan Lagi (Menulis Buku)?

PromoTraining2014

MENULIS BUKU: kalau tidak sekarang, kapan lagi? Memang mungkin Anda belum menemukan cara yang tepat sekaligus taktis untuk menyelesaikan ide-ide Anda menjadi sebuah naskah yang memiliki daya pikat dan layak terbit.

Karena itu, tanggal 3-4 Mei 2014, kembali saya menggelar event berbagi lewat Kursus “Menulis Buku Nonfiksi Populer” selama dua hari. Uniknya, ada kelas malam hari untuk membantu Anda mengembangkan kerangka (outline) naskah dan mempraktikkan cara menuliskan naskah.

Kursus ini dapat diikuti Anda yang masih pemula sekalipun atau Anda yang sudah pernah mencoba berkali-kali menulis buku, tetapi belum mampu jua menuntaskannya. Karena itu, saat kursus, Anda wajib membawa laptop/notebook dan Anda memang harus langsung menulis bersama saya.

Anda akan diajak “menikmati” sebuah proses dari awal sampai menjadi naskah yang siap terbit. Anda akan mendapatkan materi tentang stimulus ide, mengembangkan ide menjadi matriks outline, merevisi dan mengedit naskah, serta bagaimana mewujudkan penerbitan buku Anda.

Investasi hanya Rp2,5 juta dan sudah termasuk penginapan Anda satu malam (twin share) di hotel berbintang di Bandung. Akhir pekan dapat Anda manfaatkan untuk event langka ini. Sebagai tindak lanjut, kami juga menawarkan Anda bekerja sama menerbitkan buku langsung di TrimKom Publishing House dengan biaya sangat hemat.

Event ini bahkan dapat diikuti Anda sekeluarga atau bersama pasangan Anda untuk mampu menghasilkan buku. Saya telah membuktikan mampu menulis buku bersama istri saya dan kami sudah menghasilkan beberapa judul naskah seperti buku berikut ini.

Hari2 (1)

Tertarik? Hubungi langsung SMS/WA di 081519400129 untuk informasi lebih lanjut. Pendaftaran: Ketik DAFTAR KMBNP NAMA_ALAMAT_PEKERJAAN_EMAIL.

Dicari Layouter Buku

iklanlow

Trim Komunikata (TrimKom), sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa penerbitan buku dengan pengalaman sejak 2008, memerlukan layouter atau desainer grafis untuk penanganan berbagai proyek desain buku. Jika Anda berminat mengembangkan karier di bidang desain penerbitan bersama kami, kirimkan lamaran ke trim_komunikata@yahoo.com berikut portofolio karya desain halaman buku.

Kami juga menerima mahasiswa D1 atau D3 DKV untuk magang sebagai desainer buku. Peserta magang akan mendapatkan bimbingan penanganan desain buku dari TrimKom.

Buku-buku produksi tim TrimKom sejak 2008.

Buku-buku produksi tim TrimKom sejak 2008.

Tips Menulis Manistebu #2: Judul yang Berdaya Pikat

Perkara judul pernah dibahas dalam blog ini. Namun, tidak ada salahnya saya mengulas lagi dalam tulisan ringan terkait judul yang mengandung daya pikat.

Judul yang menarik hingga memiliki daya pikat bagi pembaca selalu menjadi dambaan para penulis dan penerbit. Memang tidak mudah untuk menentukan judul yang tepat. Namun, beberapa petunjuk berikut dapat Anda gunakan sebagai panduan memilih judul untuk karya semipopuler ataupun karya populer.

  1. Judul harus mengacu pada genre tulisan Anda. Judul nonfiksi jelas terkait dengan topik yang diurai dalam buku. Judul fiksi bisa mencerminkan setting (tempat), suasana cerita, atau bahkan nama sang tokoh. Judul faksi biasanya dijelaskan dengan anak judul berikut: Sebuah Biografi …. Sebuah Memoar ….
  2. Judul haruslah merupakan pilihan kata yang mudah diingat dan tidak terlalu panjang. Judul dengan satu kata terkadang malah sangat efektif menarik perhatian. Namun, biasanya judul dengan satu atau dua kata dapat dibantu dengan anak judul pada karya-karya nonfiksi ataupun fiksi sebagai penjelasan kepada calon pembaca.
  3. Judul hendaknya mencerminkan emosi atau nilai rasa tulisan, seperti ceria, suram, sedih, menakutkan, atau menegangkan.
  4. Judul dapat ditentukan juga dengan mengambil frasa atau kelompok kata yang kuat dari tulisan Anda. Terkadang dalam karya-karya antologi ataupun omnibus, judul diambil dari salah satu karya tulis yang paling menarik.
  5. Judul menjadi menarik jika penulis juga mampu menggunakan permainan kata atau rima, contohnya Korupsi Sudah Basi atau Bidadari di Balik Matahari.

Para penulis/pengarang tidak perlu terburu-buru menentukan judul pada saat awal menulis. Gunakan saja judul sementara atau judul kerja (working title) untuk membuat karya tulis Anda punya nama. Kata-kata yang kuat pada judul akan datang dengan sendirinya.

Contoh kasus pada judul Chicken Soup yang diperkenalkan Jack Canfield. Judul ini dianggap aneh pada awalnya yaitu Chicken Soup for the Soul. Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, jelas lebih aneh lagi: Sup Ayam untuk Jiwa.

Jack Canfield mendapatkan judul kuat itu menurutnya setelah melakukan meditasi dua jam sehari. Saat meditasi, terlintaslah ucapan neneknya manakala ia sakit. Neneknya selalu menyuguhkan chicken soup hangat dan mengatakan, “Sup ini akan menyembuhkanmu.” Dari sinilah ilham menjuduli buku tersebut dengan Chicken Soup muncul karena cerita-cerita di dalamnya dapat menyembuhkan jiwa.

Bandingkan dengan buku yang laris pada 2013 berjudul Pemulihan Jiwa karya Dedi Sutanto hingga masuk serial keempat. Muatan makna pada judul Chicken Soup for the Soul dan judul Pemulihan Jiwa sebenarnya hampir sama.

Di beberapa penerbit, judul juga menjadi perhatian para editor. Karena itu, dalam perjanjian penerbit terkadang terdapat sebuah ayat bahwa penentuan judul buku adalah bagian dari hak penerbit. Penerbit memang tidak mau ambil risiko tentang judul yang diajukan penulis dan ternyata kurang menarik atau dianggap kurang kuat mencerminkan karya.

Walaupun demikian, para penulis atau editor kerap juga mengambil jalan pintas sebagai epigon dengan menggunakan judul yang sudah ada, seperti menyisipkan kata Rahasia …., Keajaiban …., Mukjizat …., The Power of …., The Secret of …. Jadi, cara yang paling bagus sebenarnya bukan menjadi epigon, melainkan sering-sering ke toko buku untuk mengenali aneka judul buku yang diterbitkan sebagai stimulus ide.

Hak cipta © Bambang Trim 2014

PERINGATAN:

* Tulisan di dalam blog ini sebagai opini dapat dikutip. Etiket pengutipan tentu harus mencantumkan penulis dan sumber tulisan agar terhindar dari perilaku plagiat.

Kaidah Penulisan Daftar Pustaka

Penulisan daftar pustaka atau bibliografi termasuk perkara yang banyak tidak dipahami penulis dalam penyusunan naskah. Kembali pada soal gaya selingkung, beberapa buku gaya selingkung membuat aturan tersendiri tentang penyusunan daftar pustaka yang selalu ditempatkan pada akhir tulisan atau akhir buku.

Daftar pustaka merupakan sekumpulan daftar bacaan, baik itu buku, majalah, makalah, atau bacaan lainnya yang digunakan penulis untuk mendukung tulisannya. Daftar pustaka kerap juga disebut sebagai daftar bacaan. Sebagai daftar bacaan, bahan-bahan pustaka yang terdapat pada daftar pustaka belum tentu dirujuk langsung di dalam teks sebagai catatan kaki, catatan perut, atau catatan akhir.

Berikut ini adalah urutan penyusunan daftar pustaka untuk buku berdasarkan anjuran Badan Bahasa:

  1. nama penulis/editor (disusun secara terbalik berdasarkan abjad, kecuali nama etnis Cina yang ditulis apa adanya)
    Contoh:
    Trimansyah, Bambang
    Simatupang, Dian Puji
    The Liang Gie
  2. tahun terbit;
  3. judul buku (dicetak miring);
  4. nama kota, tempat publikasi/penerbitan;
  5. nama penerbit.

Adapun ketentuan penting dari penyusunan daftar pustaka untuk menghindarkan kesalahan dalam penulisan sesuai dengan anjuran Badan Bahasa adalah sebagai berikut.

  1. Daftar pustaka disusun secara alfabetis dan tidak perlu diberi nomor.
  2. Nama penulis/penyusun, nama editor, atau nama penerjemah tidak perlu diikuti dengan gelar akademis.
  3. Jika ada dua penulis, penulisan nama penulis kedua tidak ikut dibalik.
  4.  Setiap bagian dipisahkan dengan tanda titik (.) bukan koma (,).
  5. Nama penerbit tidak perlu diikuti nama badan hukum/badan usaha.
  6.  Judul buku ditulis miring (italik), sedangkan judul artikel/makalah ditulis dengan diapit tanda petik ganda (“…”). Perhatikan tata cara penulisan judul buku pada Pedoman Umum Ejaan yang Disempurnakan.
  7.  Informasi cetakan tidak perlu ditambahkan pada daftar pustaka, sedangkan informasi edisi (baru) perlu ditambahkan.
  8. Penyajian daftar pustaka menggunakan jenis baris menggantung (hanging indent) dengan baris kedua menjorok tiga karakter.

Daftar Pustaka Kategori Buku

Satu Penulis

Trim, Bambang. 2014. 5W + 1 Writerpreneur: Cara Cerdas dan

Cergas Berbisnis Tulisan. Bandung: Trim Komunikata.

Dua Penulis

Azhar, Tauhid Nur dan Bambang Trim. 2005. Jangan ke Dokter

Lagi: Keajaiban Sistem Imun dan Kiat Menghalau Penyakit.

Bandung: MQ Publishing.

Tiga Penulis

Larry, Ram Charan, dan Charles Buck. 2012. Execution: Seni

Menyelesaikan Pekerjaan. Jakarta: Gramedia Pustaka

Utama.

Lebih dari Tiga Penulis

Perkara ini biasa terjadi pada buku yang disusun oleh banyak orang sehingga tidak dapat disebutkan satu per satu, contohnya pada karya antologi ataupun bunga rampai. Nama penulis pertama akan menjadi nama yang dituliskan di dalam daftar pustaka.

Titik WS, dkk. 2012. Kreatif Menulis Cerita Anak. Bandung:

Nuansa Cendekia.

atau

Titik WS, et al. 2012. Kreatif Menulis Cerita Anak. Bandung:

Nuansa Cendekia.

Nama Editor

Taryadi, Alfons (ed.). 1999. Buku dalam Indonesia Baru.

Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Singkatan ed. digunakan untuk menyebut editor. Ada juga yang menggunakan singkatan peny. untuk menyebut penyunting. Namun, untuk membedakan dengan singkatan penyusun yang juga ditulis peny., sebaiknya digunakan ed. saja.

Nama Lembaga

Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa

Indonesia. Edisi ke-4. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Karya Terjemahan

Osborne, John W.1993. Kiat Berbicara di Depan Umum untuk

Eksekutif. Terjemahan Walfred Andre. Jakarta: Bumi

Aksara.

atau

Osborne, John W.1993. Kiat Berbicara di Depan Umum untuk

Eksekutif. Terjemahan Walfred Andre. Jakarta: Bumi

Aksara. (Teks asal dalam bahasa Inggris).

Tambahan Edisi

Kridalaksana, Harimurti. 1993. Kamus Linguistik. Edisi ke-3.

Jakarta: Gramedia.

Tambahan Jilid

Suryanegara, Ahmad Mansur. 2008. Api Sejarah. Jilid I.

Bandung: Salamadani Pustaka Semesta.

Penulis Sama dan Tahun Terbit Sama

Trim, Bambang. 2011a. Muhammad Effect: Getaran yang

Dirindukan dan Ditakuti. Solo: Tinta Medina.

—–. 2011b. The Art of Stimulating Idea: Jurus Mendulang Ide

dan Insaf agar Kaya di Jalan Menulis. Solo: Metagraf.

Daftar Pustaka Kategori Nonbuku

Hal penting dari daftar pustaka kategori nonbuku adalah cara penulis judul yang diapit tanda petik ganda (“…”). Adapun untuk nama media publikasi penulisannya menggunakan huruf miring/italik.

Skripsi/Tesis/Disertasi

Trimansyah, Bambang. 1997. “Model Tematik Buku Anak

Indonesia Dekade 1990”. Skripsi pada Fakultas Sastra

Universitas Padjadjaran.

Lippes, R. 2005. “Food as Emotional Bal min the Twentieth

Century: A Study on Cultural Change”. Tesis pada Oxford

Brookes University.

Makalah

Parera, Frans. 1995. “Editor dalam Dunia Pernaskahan”.

Makalah pada Kongres Perbukuan Nasional I 29-31 Mei

1995. Jakarta: Departemen Pendidikan dan

Kebudayaan.

Artikel dalam Koran/Majalah/Jurnal

Arradon, Issabelee. 2014. “Aceh, Contoh Penyelesaian

Kejahatan Masa Lalu”. dalam Kompas, 10 Februari 2014.

Pranoto, Iwan. 2014. “Kasmaran Tan Malaka Bermatematika”.

dalam Kompas, 10 Februari 2014, h. 7.

Sutopo, Hadi. “Pengembangan Perangkat Lunak Imposisi pada

Industri Penerbitan”. dalam Ultimart, 5(2), h. 98-105.

Desember 2012.

atau

Sutopo, Hadi. “Pengembangan Perangkat Lunak Imposisi pada

Industri Penerbitan”. dalam Ultimart, 5(2):  98-105. Desember

2012.

Sumber Daring (Online) dengan Tanggal Posting Diketahui

Trim, Bambang. 2014. “Harga Sebuah Impian Menulis”.

Manistebu, 11 April 2014, dilihat 12 April 2014. <http://

manistebu.wordpress.com/2014/04/11/harga-sebuah-

impian-menulis/>.

Sumber Daring (Online) dengan Tanggal Posting Tidak Diketahui

Jika tanggal posting tidak diketahui, cantumkan saja tanggal akses.

Trim, Bambang. 2014. “Harga Sebuah Impian Menulis”.

Manistebu, dilihat 12 April 2014. <http://

manistebu.wordpress.com/2014/04/11/harga-sebuah-

impian-menulis/>.

Kitab Suci, Kamus, Ensiklopedia, Direktori

Al-Quran dan Terjemahannya. 2014. Jakarta: Departemen

Agama RI.

Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2013. Edisi ke-empat. Jakarta:

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Entertainment Directory Book 2010. 2010. Jakarta: Gramedia

Pustaka Utama.

 

Demikian beberapa kaidah penulisan daftar pustaka yang perlu Anda ketahui. Jika ada perbedaan dalam penulisan/penempatan bagian seperti tahun, biasanya terkait dengan gaya selingkung (house style) yang digunakan seseorang. Saat ini banyak digunakan gaya selingkung dalam penulisan akademis/ilmiah, seperti APA Style, MLA Style, Vancouver, dan Harvard Citation Style.

Perhatikan perbedaan berikut ini.

American Psychological Association style

Trim, Bambang. (2011), The Art of Stimulating Idea, Surakarta:

Maxigraf.

Chicago Manual of Style

Trim, Bambang. The Art of Stimulating Idea. Surakarta:

Maxigraf, 2011.

Harvard Style

Trim, Bambang. 2011. The Art of Stimulating Idea. Surakarta:

Maxigraf.

modern language association style

Trim, Bambang. The Art of Stimulating Idea. Surakarta:

Maxigraf, 2011.

Turabian

Trim, Bambang. The Art of Stimulating Idea. Surakarta:

Maxigraf, 2011.

Vancouver

Trim, Bambang. The Art of Stimulating Idea. Surakarta:

Maxigraf; 2011.

Hak cipta © Bambang Trim 2014.

Tips Menulis Manistebu #1: Tunjukkan, Jangan Memberi Tahu

Mengapa saat membaca sebuah awal tulisan kita cenderung bisa merasakan apakah tulisan ini layak untuk diteruskan atau akan menyajikan sesuatu yang membosankan? Biasanya ini terkait dengan cara menyajikan paragraf awal. Banyak penulis yang akhirnya gagal memikat dengan tulisannya karena paragraf awalnya sudah bergaya ‘memberi tahu’, bukan ‘menunjukkan’

Teknik untuk memancing ketertarikan seorang pembaca saat membaca bagian awal tulisan kerap disebut sebagai cara memunculkan efek VHF dalam tulisan. VHF adalah visual-hearing-feeling. Artinya, potensi pancaindra dapat digunakan penulis untuk menyajikan tulisannya menjadi hidup.

Lalu, muncullah apa yang disebut sebagai teknik MENUNJUKKAN, bukan SEKADAR MEMBERI TAHU saat Anda menulis. Bagaimana contohnya?

couple-reading-books

Ini adalah contoh paragraf yang memberi tahu:

Editor adalah profesi dengan multitugas. Seorang editor harus menguasai tata bahasa. Lalu, seorang editor juga harus menguasai perihal seluk beluk naskah.

Ini contoh paragraf yang menunjukkan:

Editor ibarat profesi yang serba tahu. Di satu sisi, ia seperti pekerja teknis yang piawai mengutak-ngatik bahasa. Di sisi lain, ia juga seperti konsultan atau ahli psikologi yang mampu memberikan konseling terhadap kefrustrasian penulis menghadapi naskahnya. Editor memang harus menggunakan dua fungsi otak kiri dan otak kanan sekaligus.

Bisakah Anda membedakannya? Baiklah, saya berikan contoh lain.

Ini yang memberi tahu:

Rujak adalah makanan tradisional Indonesia yang telah dikenal sejak dulu. Bahan-bahan rujak terdiri atas buah-buahan segar ditambah dengan bumbu rujak yang dapat diracik dari gula merah, asam jawa, cabai rawit, kacang tanah, lalu diulek dan diberi air.

Ini yang menunjukkan:

Siapa yang tak kenal rujak? Jenis makanan pencuci mulut asli Nusantara nan eksotik ini hampir pasti dapat ditemukan di seluruh penjuru Indonesia. Bagi mereka penggemar makanan pedas, rujak dengan bumbu yang bercampur dengan dua atau tiga cabai rawit adalah makanan favorit.

Bagaimana Anda bisa berlatih menulis dengan cara “menunjukkan” itu? Syarat pertama adalah kekayaan kosakata Anda harus berlimpah sehingga Anda dapat memilih diksi (pilihan kata) yang tepat untuk menggambarkan sesuatu. Kosakata berlimpah tentu diperoleh dari keseringan membaca.

Gunakan kata-kata yang menggerakkan VHF, seperti memandang, memantau, melirik, mengerling, menatap, mendesau, mendesir, meraung, merayap, merangkak, dan terhempas. Jadi, kata-kata itulah yang menghidupkan cara Anda menunjukkan.

Kedua, Anda harus berpikir terkadang out the box dalam memulai tulisan. Anda bisa memulai dengan pertanyaan yang “menggoda”; menyajikan data dan fakta yang “mencekam”; atau menyajikan kisah menarik yang belum terungkap sebelumnya, termasuk pengalaman pribadi Anda atau pengalaman orang-orang terdekat Anda. Jadi, memang jangan terjebak memulai tulisan dengan cara biasa.

Ketiga, Anda benar-benar melibatkan pembaca untuk merasakan sesuatu yang ingin Anda jelaskan, termasuk dalam topik-topik ilmiah populer. Jadi, jangan menempatkan diri Anda lebih tahu daripada pembaca atau terkesan menggurui pembaca.

Semoga tips kecil ini membantu Anda berlatih menulis dengan lebih impresif. Salam buku! [BT]

Hak Cipta © Bambang Trim 2014